Pengaturan Pendayagunaan Sumber Daya Air dalam Undang-Undang Cipta Kerja dan Korelasinya dengan Pasal 33 UUD 1945

Authors

  • Dimas Putra Pradhyksa Universitas Islam Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.53754/iscs.v1i2.16

Keywords:

constitutional rights, water resources, work creation law

Abstract

Currently, the regulation regarding Water Resources is regulated in Law Number 17 of 2019 concerning Water Resources (“SDA Law”), and several provisions have been amended by Law Number 11 of 2021 concerning Job Creation (“Job Creation Law”). The existence of water resources, which is the constitutional right of every Indonesian citizen, is fundamental. Water should be the right of every layer of Indonesian citizens because the 1945 Constitution guarantees constitutional rights. Therefore, water must be controlled by the State and used as much as possible for the prosperity of the people. Based on Article 33 paragraph (2) and paragraph (3), Utilization of Water Resources can contextualize the paradigm of control over water resources between the Natural Resources Law, the Job Creation Law and its derivative regulations must prioritize the management of water resources with a state responsibility approach (State control) that prioritizes the interests of the State. Social needs (living needs of the people) and community involvement in planning for exploitation, protection, and financing of the benefits of irrigation have not yet detailed regulations regarding the use of water for the benefit of other industries. 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/PUU-VII/2010.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 85/PUU-XI/2013.

Absori. (n.d.). putusan MK Nomor 85/PUU-XI/2013 : “...cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara. Maknanya adalah bahwa BUMN maupun BUMND h.

Ali, Z. (2021). Metode penelitian hukum. Sinar Grafika.

All, M. T. H. et. (2015). Water Restoration Sebagai Upaya Optimalisasi Ekokarasi di Bidang Kedaulatan Air Demi Terwujudnya Keadilan Sosial. Karya Ilmiah:UIN Maliki Malang.

Arrsa, R. C. (2015). Telaah Sociolegal Terhadap Terwujudnya Kedaulatan Hak Atas Sumber Daya Air. Jurnal Recgtvinding, Vol 4, No.

As-Shidqy, J. (2011). Green Constitution: Nuansa Hijau UUD1945. PT Raja Grafindo.

Asyidiqie, J. (n.d.). Demokrasi Ekonomi.

Bartlett, A. G. (1972). No Title.

Baswir, R. (n.d.). Ekonomi Kerakyatan Ekonomi Rakyat dan Koperasi Sebagai Soko guru Perekonomian Nasional.

Batubara, B. (n.d.). Menafsir Pasal 33: Analisis Terhadap Putusan MK Nomr 85/PUU-XI/2013 tentang Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA).

Dochak Latief. (1987). Perbandingan sistem ekonomi: islam, liberalisme, sosialisme. Yayasan penerbitan FKIS IKIP.

TAP MPR Nomor IX/MPR/2001.

Kompas. (n.d.-a). Air Bersih Kian Sulit Dicari.

Kompas. (n.d.-b). Mengakhiri Liberalisme Pengelolaan Air.

Krutz, G. S. (2001). Tactical maneuvering on omnibus bills in Congress. American Journal of Political Science, 210–223.

Manan, B. (1995). Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara. Bandar Maju.

Marzuki, P. M. (2008). Penelitian Hukum, Cet. Jakarta: Kencana.

Maskur, M. A. (2019). Kebijakan Pengelolaan Air Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Undang-Undang Sumber Daya Air. Jurnal Konstitusi, 16(3), 510–531.

Mubyarto. (n.d.). Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia. LP3ES.

P, H. S. (2002). Dimensi Hukum Pembangunan Berkelanjutan. BP UNDIP.

Pendapat Mahkamah. (n.d.). “Mahkamah memberikan penafsiran baru terhadap ‘hak menguasai negara’ dengan meletakkan peringkat pertama pada pengelolaan sendiri oleh negara atas sumber daya alam, dalam hal ini meinyak dan gas bumi, supaya perolehan pendapatannya lebih banyak, yang akan.

Prihatin, R. B. (2009). Info Singkat: Air Bersih di Perkotaan. Sekertariat Jendral DPR RI: Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI).

Rahardjo, D. (1997). Agenda Aksi Liberalisasi Ekonomi dan Politik di Indonesia. Tiara Wacana.

Suroso. (1994). Perekonomian Indonesia (P. G. P. Utama (ed.)).

Sutardi. (2002). Pengelolaan Sumberdaya Air yang Efektif. Lokakarya:Badan Perencanaan Daerah.

Suteki. (n.d.). Dimensi Hukum di Ruang Sosial.

Suteki. (2013). Dimensi Hukum di Ruang Sosial. Thafa Media.

Swasono, S.-E. (1997). Pasar Bebas yang Imajiner: Distorsi Politik dan Pertentangan Kepentingan Internasional. Kantor Menko Ekuin.

Syafa’at, M. A. (n.d.). Pemikiran Keadilan (Plato, Aristoteles, dan John Rawls).

Undang-Undang Nomor 07 Tahun 2004 Pasal 1 Ayat 2. (n.d.). Tentang Sumber Daya Air.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 Pasal 1 Ayat 3. (n.d.). Tentang Pengairan.

Undang-Undang Nomor 17 tahun 2012. (n.d.). Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan buda.

Undang-Undang Nomor 17 tahun 2019. (n.d.). tentang Sumber Daya Air.

Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. (n.d.). Badan Usaha MIlik Negara (BUMN).

UU Cipta kerja Pasal 1 Ayat 21. (n.d.). SDA Pengelola Sumber Daya Air adalah institusi yang diberi tugas dan tanggung jawab oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang mana dalam Pasal 11 huruf J UU SDA.

Published

2021-07-30

How to Cite

Pradhyksa, D. P. . (2021). Pengaturan Pendayagunaan Sumber Daya Air dalam Undang-Undang Cipta Kerja dan Korelasinya dengan Pasal 33 UUD 1945. Ascarya: Journal of Islamic Science, Culture, and Social Studies, 1(2), 70–92. https://doi.org/10.53754/iscs.v1i2.16