Inquiry-Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Keterampilan Dasar Pada Pelajaran Tindakan Keperawatan (Inquiry-Based Learning to Improve Learning Outcomes of Basic Skills in Nursing Action Lessons)

 

Diana Safitri1*

1Guru pada SMKN 1 Banyudono Boyolali

Corresponding Author: Diana Safitri, E-mail: [email protected]

ARTICLE INFO

ABSTRACT

Received: 03-11-2021

Accepted: 08-12-2021

Volume: 1

Issue: 1

DOI:

https://doi.org/10.53754/ civilofficium.v1i1.217

In the Millennial era, learning should prioritize learning based on student-centered approaches based on self-direct learning, namely the Inquiry-based learning (IBL) model. This model is expected to enable students to apply self-direct learning. The purpose of this study was to determine the implementation of learning in Nursing Action Basic Skills Subjects for Patient Bed Preparation, to determine the application of the IBL model, and to determine the improvement of student learning outcomes in the 2021/2022 academic year. This research is classroom action research using cycles. The final result of this research is that the implementation of learning with the Inquiry-based learning model gives an excellent impression for students, with a percentage of 70% of the questionnaires, while the learning outcomes in the first cycle with 77% completeness and in the second cycle with 100% completeness. The percentage increase in learning outcomes from each cycle is 15.7% in the first cycle and 11.6% in the second cycle.

KEYWORDS

 

Inquiry-Based Learning, Learning Outcomes, Nursing Action.

 

1. Pendahuluan

Peradaban manusia saat ini telah memasuki abad Ke-21 atau lebih sering disebut dengan Era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan pesat dalam bidang digitalisasi dan teknologi informasi. Hal ini berdampak pada perubahan luar biasa di setiap aspek kehidupan, salah satunya dunia pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah proses yang memiliki tujuan agar siswa mampu memahami dan berubah perilakunya ke-arah yang lebih baik. Sedangkan pembelajaran memiliki makan yang lebih sempit dari pada pendidikan yang hanya memiliki tujuan agar siswa mampu memahami pengetahuan yang didapatkan. Era millennial merupakan era dimana kelahiran seseorang sudah berada pada perkembangan teknologi maju, yang berdampak pada perubahan pola pikir anak akibat pengaruh teknologi maju yang terus berkembang dengan sangat cepat.

Termasuk di dalamnya pada aspek pendidikan yang objeknya secara menyeluruh adalah peserta didik yang lahir di era milenial, maka pemegang kebijakan dalam pendidikan perlu melakukan langkah cepat dan nyata dalam rangka menyesuaikan bentuk system pendidikan dengan objek nya yaitu peserta didik. Dengan pembelajaran yang lebih mengarah ke student centered approach akan menjadikan pendidikan bagi anak era millennial lebih cocok.

Salah satu model yang bisa diterapkan melalui student centered approach adalah model pembelajaran inquiry (Inquiry Based Learning). Menurut (Setyawati, 2016) Inquiry Based learning (IBL) merupakan salah satu strategi yang menjadikan peserta didik mampu mengeksplorasi pengetahuan melalui usaha menemukan sebanyak banyaknya informasi kemudian memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi pertanyaan dengan jawaban yang diperoleh dan memberikan penghargaan dari usahanya untuk dijadikan modal dalam pembelajaran berikutnya.

Pembelajaran dengan metode IBL bisa digunakan untuk seluruh mata pelajaran yang ada, salah satunya adalah mata pelajaran Keterampilan Dasar Tindakan Keperawatan yang ada di SMKN I Banyudono Boyolali, metode IBl lebih menekankan pada student centered approach atau pembelajaran terpusat pada siswa, karena menurut (Long et al., 2004) pembelajaran IBL memiliki makna pembelajaran yang berbasis pada self-direct learning, dimana ada tahap melatih kemandirian siswa dalam proses belajar mereka.

Penerapan IBl di SMKN 1 Banyudono Boyolali tidak tanpa alasan, ada hal yang mendasar semua itu, antara lain dari pengalaman penulis bahwa tidak sedikit guru yang ada di SMNK 1 Banyudono lebih memilih pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, padahal pembelajaran tersebut akan sangat ideal jika ada demonstrasi apapun praktek dalam kegiatan belajar mengajarnya, sehingga didapati hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, hal tersebut diketahui dari beberapa kali observasi penulis terhadap raport siswa. Maka adanya inisiatif melakukan penerapan metode IBl ini diharapkan bisa memberikan motivasi dan gambaran kepada siswa dan guru bahwa dengan pembelajaran IBL hasil belajar siswa bisa memuaskan.

Penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Rakhmawan dkk. (Rakhmawan et al., 2015) bahwa pembelajaran literasi sains berbasis inquiry dalam bentuk kegiatan laboratorium mampu meningkatkan literasi sains siswa SMA pada aspek konten, konteks, proses dan sikap sains siswa pada sub-materi pokok sel volta. Hal tersebut membuktikan bahwa pembelajaran Inquiry memiliki peran penting untuk menggabungkan pembelajaran tekstual dengan pembelajaran kontekstual melalui pengalaman siswa. Adapun dalam penelitian ini bentuk kegiatan siswa adalah dalam penerapan mata pelajaran keterampilan tindakan keperawatan materi menyiapkan tempat tidur pasien.

2. Kajian Literatur

Menurut (Octavia, 2020) belajar merupakan aktivitas mental dalam sebuah interaksi lingkungan yang dapat menghasilkan perubahan pada aspek pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap seseorang. Belajar merupakan serangkaian aktivitas yang dapat dilakukan secara psikologis maupun fisiologis, aktivitas psikologis diantaranya berfikir, memahami, menyimpulkan, menyimak, menelaah, membandingkan, membedakan, mengungkapkan dan menganalisis. Sedangkan aktifitas yang bersifat fisiologis antara lain melakukan eksperimen, latihan, kegiatan fisik, praktik, menghasilkan produk, dan apresiasi. Bruner menjelaskan bahwa belajar merupakan sebuah refleksi proses social yang di dalamnya anak terlibat proses interaksi diskusi dan dialog baik dengan dirinya maupun dengan orang lain (guru) sehingga mereka mampu berkembang secara intelektual (Olson & Bailey, 2014). Menurut Vygotsky belajar dapat membangkitkan proses mental yang tersimpan yang hanya bisa dibangkitkan dengan hanya interaksi bersama orang dewasa atau melalui belajar mandiri saat melakukan pemecahan masalah yang disebut dengan actual development (Kazulin et al., 2003).

Sedangkan pembelajaran menurut (Octavia, 2020) adalah sebuah system yang terdiri dari berbagai kompetensi yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya yang meliputi tujuan, materi, metode dan evaluasi dimana keempat komponen tersebut harus menjadi perhatian guru dalam menentukan metode, media, strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran. Menurut (Lefudin, 2017) model merupakan suatu konsepsi untuk mengajar suatu materi pelajaran sehingga tercapailah tujuan pembelajaran tersebut. Dalam sebuah model mencakup strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Menurut (Sudrajat, 2008) model pembelajaran pada hakikatnya adalah gambaran sebuah pembelajaran dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh seorang guru, dengan kata lain model pembelajaran merupakan frame dari sebuah penerapan pendekatan, metode, strategi dan teknik pembelajaran.

Menurut (Malau, 2010) model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang mencerminkan prosedur yang sangat sistematis dalam mengoordinasikan pembelajaran dan pengalaman belajar suatu mata pelajaran, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para desainer pembelajaran serta guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Dengan sistematika yang demikian diharapkan proses belajar mengajar dapat tercapai sesuai dengan kompetensinya.

Menurut (Mutasam et al., 2021) Inquiry Based Learning (IBL) memiliki beberapa tahapan dalam pembelajaran antara lain eksplorasi, questionary, merancang penyelidikan, melakukan penyelidikan, menganalisis data dan fakta, membangun dan, mengomunikasikan pengetahuan baru. Menurut (Dr. Ryzal Perdana et al., 2020) model pembelajaran inquiry memiliki 5 fase diantaranya observasi, manipulasi, generalisasi, verifikasi dan aplikasi. Model Inquiry diusulkan pertama kali oleh Wenning yang merupakan hasil penelitiannya selama 15 tahun di Illinois University.� Dari hasil penelitiannya diperoleh beberapa model level pembelajaran Inquiry yaitu discovery learning, interactive demonstration, inquiry lesson, inquiry lab, real word application dan hypothetical inquiry.

Hakikat dari pembelajaran inquiry merupakan cerminan dari esensi pembelajaran rumpun sains, karena pembelajaran rumpun sains tidak semestinya siswa dituntut hanya untuk memahami konsep yang sudah ada saja, namun dengan adanya eksperimen dan pengalaman belajar melalui pembuktian siswa akan mampu membuktikan konsep yang dipelajari bahkan lebih dari itu mereka akan mampu mengembangkan konsep dalam kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman praktik (Maretasari & Subali, 2012)

Evaluasi hasil belajar sebagai bagian dari makna pedagogic adalah bagian dari perjalanan panjang proses pendidikan yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Dalam arti kata lebih luas evaluasi hasil belajar ini tidak hanya terbatas pada proses belajar mengajar, akan tetapi juga ada kaitannya dengan luaran (outcome) dari belajar mengajar itu yang nantinya akan berdampak pada kemaslahatan masyarakat (Matondang et al., 2019).

Evaluasi hasil belajar memberikan cerminan kualitas sebuah pendidikan yang dilakukan, dan dengan evaluasi hasil belajar kelemahan akan diketahui dan dapat digunakan sebagai bahan pembenahan diri di masa yang akan dating (Faradillah et al., 2020). Agar evaluasi hasil belajar dapat di laksanakan dengan baik, maka perlu perencanaan dan pengukuran yang seksama. Adanya evaluasi maka proses belajar mengajar akan merasa lebih berharga, peserta didik akan bisa dihargai jerih payahnya selama proses belajar, sedangkan guru akan mendapatkan referensi ukuran kualitas siswa dan kualitas proses pembelajaran yang telah dijalankan selama ini (Ismail, 2021).

3. Metodologi

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan jumlah sampel penelitian 35 siswa SMKN 1 Banyudono kelas XI yang dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2021. Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti membagi tahapan penelitian menjadi dua siklus, masing masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi, perbaikan dan pengayaan. Instrumen yang digunakan adalah tes, angket dan observasi. Data hasil penelitian diolah dan dianalisis dengan menentukan ketuntasan perorangan dan klasikal.

4. Hasil dan pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar mata pelajaran Keterampilan Dasar Tindakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model Inquiry Based learning (IBL). Hal tersebut diketahui dari hasil observasi yang memiliki kesimpulan rata rata baik dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model IBL, serta dari hasil angket yang menunjukkan nilai rata rata 70%. Kemudian dari perolehan rata-rata nilai ulangan harian pada siklus I diperoleh nilai rata rata kelas sebesar 75,1 dan nilai rata rata pada siklus II sebesar 83,8. Hal tersebut telah memenuhi nilai standard ketuntasan minimal rata-rata 70 sehingga indikator kinerja penelitian tindakan kelas ini selesai pada siklus II.

Terjadinya hipotesis tindakan dalam penelitian ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran dengan model IBL pada mata pelajaran keterampilan Dasar Tidanakan keperawatan kali ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu disamping pada aspek kognitif siswa, penerapan model tersebut juga mampu meningkatkan aspek afektif dan psikomotor. Aspek afektif yang tampak yakni kesungguhan, keberanian, sementara aspek psikomotor dapat dilihat dari kecepatan dan ketepatan siswa menyelesaikan serangkaian tugas dan menemukan informasi baru terkait materi penyiapan tempat tidur pasien yang telah dijalankan sesuai SOP yang ada.

Hasil yang telah diperoleh diatas sesuai dengan pernyataan (Setyawati, 2016) bahwa pembelajaran IBL mampu menciptakan kemmapuan self directed learning siswa dengan arti kata siswa dalam pembelajaran ini mampu bertanggung jawab, mandiri dengan penuh kesadaran, mampu memahami strategi belajar, evaluasi belajar hingga mampu menguasai kecakapan intrerpersonal.

4.1 Siklus I

4.1.1 Paparan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan data hasil penelitian siklus I mengenai hasil belajar keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL diperoleh data untuk nilai tertinggi yang diperoleh responden adalah 83, nilai terendah sebesar 68, dan rata-rata hasil belajar Matematika sebesar 75,1 selengkapnya dapat dibaca pada tabel distribusi frekuensi bergolong sesuai dengan kategori hasil belajar Matematika sebagai berikut:

 

���� Tabel 1 Deskripsi Frekuensi Bergolong Hasil Belajar pada Siklus I

Interval

Frekuensi

Persentase

Kategori

81-100

4

11%

Baik Sekali

71-80

23

66%

Baik

61-70

8

23%

Cukup

51-60

0

0%

Kurang

< 50

0

0%

Sangat Kurang

Jumlah

35

100%

 

����������������������������������������������������������������������� �

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa perolehan hasil belajar keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL, yaitu 11% siswa berada pada kategori baik sekali, 66 % baik, 23% cukup, dan 0% kurang. Adapun rata-rata hasil belajar keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL Siklus I sebesar 75,1 dan ketuntasan individual mencapai 77%. Dari hasil yang telah diperoleh dengan indikator yang telah dilaksanakan pada siklus I yaitu:

1.       Siswa mampu menerapkan penyiapan tempat tidur pasien

2.       Siswa mampu menganalisis tujuan penyiapan tempat tidur pasien

3.       Siswa mampu menganalisis indikasi penyiapan tempat tidur pasien

4.       Siswa mampu merumuskan penyiapan tempat tidur ada pasien diatas dan tempat tidur tidak ada pasien.

Sudah memenuhi kriteria ketuntasan minimal pada siklus I, sehingga pada siklus ke II akan dilanjutkan dengan bentuk idikator selanjutnya.

4.1.2 Observasi Proses Pembelajaran Keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan

Hasil observassi pada siklus I diperoleh gambaran tentang sikap dan perilaku siswa perihal kesungguhan siswa. Perhatian siswa mulai terpusat pada pelajaran walaupun belum maksimal. Sedangkan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran Keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan mulai meningkat. Siswa lebih bersemangat jika dibandingkan dengan kondisi awal sebelum materi menyiapkan tempat tidur pasien diterapkan dengan menggunakan model IBL.

Kemajuan siswa juga terlihat dalam hal keberanian siswa ketika mengemukakan pendapat dan mencoba mempraktekkan dalam menata tempat tidur pasien sesuai instruksi dan tutorial dalam video guru bersama kelompoknya. Siswa mulai berani mengemukakan pendapatnya, hal ini terlihat dari keaktifan siswa mengerjakan dan antusias terhadap materi menyiapkan tempat tidur pasien. Siswa juga responsif dalam menjawab pertanyaan, setiap siswa selalu berusaha menjawab pertanyaan dengan benar. Keberanian siswa juga semakin terlihat ketika harus tampil di depan kelas saat presentasi, mereka berani tampil memimpin dalam menyeleseikan bersama teman temannya.

Perilaku lain yang menujukkan peningkatan yaitu dalam hal ketepatan. Tugas yang diberikan kepada siswa dapat diselesaikan dengan baik walaupun belum semuanya dapat diselesaikan tepat waktu. Hal lain yang meningkat yaitu kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan. Selain itu dalam membuat pertanyaan, siswa mampu membuat pertanyaan sesuai materi yang sedang dipelajari. Siswa belum dapat menyelesaikan tugas lebih awal dari waktu yang ditentukan. Hal ini lantaran siswa belum terbiasa menyelesaikan tugas dengan cepat. Namun kemampuan menjawab pertanyaan ada peningkatan. Siswa dapat menjawab pertanyaan secara cepat dan tepat.

Dari sudut guru kemampuan mengajar guru mulai ada peningkatan walaupun belum signifikan. Guru sudah mulai mengelola ruang, fasilitas, strategi, interaksi dengan siswa, dan evaluasi dengan baik. Namun untuk pengelolaan waktu masih belum dapat terlaksana dengan efektif, karena guru belum terbiasa menggunakan model pembelajaran seperti ini. Kesan umum guru dalam mengajar masih sedikit kaku, kurang luwes dan belum terlalu peka terhadap kondisi siswa.

4.2 Siklus II

4.2.1 Paparan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan data hasil penelitian siklus II mengenai hasil belajar keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL diperoleh data untuk nilai tertinggi yang diperoleh responden adalah 95, nilai terendah sebesar 80. selengkapnya dapat dibaca pada tabel distribusi frekuensi bergolong sesuai dengan kategori hasil belajar Matematika sebagai berikut:

Tabel 2 Deskripsi Frekuensi Bergolong Hasil Belajar pada Siklus II

Interval

Frekuensi

Persentase

Kategori

81-100

31

74%

Baik Sekali

71-80

9

26%

Baik

61-70

0

0%

Cukup

51-60

0

0%

Kurang

< 50

0

0%

Sangat Kurang

Jumlah

35

100%

 

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa perolehan hasil belajar keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL, 74% siswa berada pada kategori baik sekali, 26% baik, dan 0% cukup.

Adapun rata-rata hasil belajar keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL Siklus II melalui sebesar 83,8 dan ketuntasan individual mencapai 100%. Potret pembelajaran keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien melalui penerapan model IBL sudah mencapai tujuan yang tertuang dalam indikator kinerja yakni > 85% dari jumlah siswa dalam kelas telah mencapai ketuntasan belajar individual, sehingga penelitian tindakan kelas pada siklus II dinyatakan berhasil.

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa penggunaan� penggunaan IBL guna meningkatkan hasil belajar mata pelajaran keterampilan Dasar Tindanakan keperawatan materi Menyiapkan tempat tidur pasien untuk siswa kelas XI Akper 2 SMKN 1 Banyudono Boyolali untuk semua indikator materi pelajaran dapat dilaksanakan dengan tuntas.

4.3 Observasi Proses Pembelajaran keterampilan Dasar Tindanakan Keperawatan

Hasil observasi siklus II menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kesungguhan siswa dalam mengikuti pelajaran lebih meningkat. Perhatian siswa secara penuh tertuju pada seluruh tahapan dalam pembelajaran dengan metode IBL. Semangat siswa lebih meningkat, semua siswa mengikuti pelajaran dengan penuh semangat, tidak ada yang malas atau kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran pada siklus ke II ini.

Keberanian siswa megemukakan pendapat dalam menjawab pertanyaan yang di ajukan baik oleh guru maupun teman antar kelompoknya juga sangat baik. Siswa sudah berani mengungkapkan pendapat, mengomentari suatu hal atau pun mengungkapkan ide-idenya. Mereka berlomba-lomba untuk memperoleh pertanyaan dan menjawabnya. Peningkatan juga terlihat pada kemampuan siswa untuk tampil di kelas. Masing-masing siswa berusaha tampil dengan sebaik-baiknya.

Perubahan yang cukup signifikan juga terjadi di aspek ketepatan. Rata-rata siswa di kelas mampu menjawab pertanyaan dengan tepat. Mereka juga mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Selain itu siswa juga lebih mampu membuat pertanyaan yang bagus yang mudah dipahami dan sesuai dengan materi.

Aspek kecepatan siswa juga mengalami peningkatan. Siswa dapat menyelesaikan tugas lebih awal. Kecepatan juga terlihat saat siswa menjawab pertanyan. Siswa dapat menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Sehinga pelajaran dapat berlangsung dengan lancar, aktif, kreatif, bermakna, dan menyenangkan

Perubahan yang cukup signifikan juga terjadi pada guru sebagai fasilitator pembelajaran. Kualitas guru dalam mengajar lebih meningkat dibandingkan siklus sebelumnya. Guru lebih tenang, dapat menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, terkesan luwes, dan dapat menguasai kelas, mengelola ruang, menggunakan model pembelajaran IBL dengan lancar dan tepat. Hal yang lebih menggembirakan lagi guru terkesan lebih kreatif, lebih bersemangat mengajar, membawa suasana kelas menjadi menjadi segar.

Dengan suasana kelas yang demikian ternyata siswa lebih mudah memahami materi pelajaran. Hasil belajar siswa meningkat dan kualitas guru dalam mengajar juga meningkat. Sehingga tidak aneh lagi jika anatara guru dan siswa terjalin hubungan yang dinamis, harmonis, dan menyenangkan.

4.4 Hasil pengamatan peneliti terhadap kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung pada setiap siklus

Penelitian tindakan kelas ini� dilaksanakan sebanyak 2 siklus. �Pada siklus I terlihat bahwa siswa masih belum paham dengan metode yang digunakan. Sebagian siswa belum maksimal mengikuti instruksi dari peneliti. latihan dalam mengeksplorasi masalah, menarik hal yang baru masih belum terbiasa dilakukan. Pada siklus II, siswa sudah memahami prosedur dari metode yang digunakan. Atas perhatian peneliti terhadap siswa, kegiatan di kelas berjalan dengan lancar. Hal ini dibuktikan dengan semakin lancarnya siswa melakukan praktek menyiapkan tempat tidur pasien sesuai dengan SOP yang sudah ditetapkan. �Dari penghitungan pada analisis di atas dapat dijabarkan dalam pembahasan sebagai berikut� :

Nilai rata-rata tes siswa pada pra siklus = 64,9; rata-rata siklus 1 = 75,1; dan rata-rata siklus 2 = 83,8. Dari data ini dapat dinyatakan bahwa dari rata-rata pra siklus setelah diberikan pembelajaran dengan metode kooperatif pada siklus 1 terdapat peningkatan 75,1 � 64,9 = 10,2; dan dari nilai rata-rata tes pada siklus 1 setelah direfleksikan dan diberikan pembelajaran pada siklus 2 terdapat peningkatan nilai rata-rata sebesar 83,8 � 75,1 = 8,7.

Dari nilai pre-test dapat dimaklumi bahwa anak belum memperoleh model IBL yang disajikan setelahnya, sedangkan setelah diberikan pembelajaran dengan model IBL dan didukung oleh instruksi, kelompok dan contoh yang disiapkan oleh guru maka pada tes siklus 1 terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikan dan hasil tersebut direfleksikan dengan pembelajaran pada siklus 2, maka diperoleh peningkatan hasil belajar yang lebih baik. Artinya penggunaan metode kooperatif menghasilkan peningkatan efektivitas pembelajaran yang sangat signifikan sehingga berdampak langsung pada peningkatan hasil belajar siswa.

Dari penghitungan dengan rumus matematika diperoleh hasil hasil evaluasi siklus 1 setelah diberi tindakan dari nilai tes pra siklus terdapat peningkatan 15,7 % dan siklus 2, berdasarkan tindakan lanjutan dan refleksi dari siklus 1 terdapat peningkatan 11,6 %. Berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilaksanakan peneliti selama 2 siklus tersebut, bahwa dengan penerapan model IBL yang dilakukan oleh� guru, ternyata dapat meningkatkan� hasil pembelajaran yang berdampak langsung pada prestasi belajar siswa, terbukti dengan meningkatnya rata-rata hasil evaluasi siswa tiap siklus serta meningkatnya semangat dan keaktifan siswa saat praktek menyiapkan tempat tidur pasien yang sudah ter-standarisasi SOP.

5. Simpulan

Hasil akhir dari penelitian ini yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan model IBL memberikan kesan yang sangat baik bagi siswa, dengan posentase angket 70%, sedangkan hasil pembelajarannya pada siklus I dengan ketuntasan 77% dan pada siklus II dengan ketuntasan 100%. Prosentase kenaikan hasil belajar dari masing-masing siklus adalah 15,7% di siklus I dan 11,6% di siklus II.

6. Daftar Pustaka

 

[1]     Dr. Ryzal Perdana, S. P. M. P., Prof. Dr. Budiyono, M. S., Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M. S., & Sukarmin, S. P. M. S. (2020). MODEL PEMBELAJARAN ISC (INQUIRY SOCIAL COMPLEXITY): Untuk Memberdayakan Critical And Creative Thinking (CCT) Skills (I). Penerbit Lakeisha.

[2]     Faradillah, A., Hadi, W., & Soro, S. (2020). Evaluasi Proses dan Hasil Belajar (EPHB) Matematika dengan Diskusi dan Simulasi (DiSi) (I). Uhamka Press.

[3]     Ismail, M. I. (2021). EVALUASI PEMBELAJARAN - Rajawali Pers (I). PT. Raja Grafindo Persada.

[4]     Kazulin, A. U., Kozulin, A., Corporation, E., Gindis, B., Ageyev, V. S., Miller, S. M., Brown, J. S., Heath, C., & Pea, R. (2003). Vygotsky�s Educational Theory in Cultural Context (V. S. Alex Kozulin, Aljaksandr U. Kazulin, Boris Gindis, Suzanne M. Miller (ed.); First). Cambridge University Press. https://books.google.co.id/books?id=mfCHutwHT-cC

[5]     Lefudin. (2017). Belajar dan Pembelajaran Dilengkapi dengan Model Pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran dan Metode Pembelajaran (I). Deepublish.

[6]     Long, H. B., Retired, O., Brockett, R. G., Confessore, G. J., Guglielmino, P. J., Hiemstra, R., College, E., Liddell, T. N., Findley, B. W., & Ardoin, P. G. (2004). International Journal of Self-Directed Learning,. 1(2).

[7]     Malau, J. (2010). Model-model pembelajaran. Disajikan Pada TOT Guru Pemandu MGMP SMP in Service, 1, 10.

[8]     Maretasari, E., & Subali, B. (2012). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Laboratorium Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Sikap Ilmiah Siswa. UPEJ (Unnes Physics Education Journal), 1(2). https://doi.org/10.15294/upej.v1i2.1375

[9]     Matondang, Z., Djulia, E., Sriadhi, S., Simarmata, J., & Iqbal, M. (2019). Evaluasi Hasil Belajar. Yayasan Kita Menulis.

[10]  Mutasam, U., Ibrohim, I., & Susilo, H. (2021). Penerapan Pembelajaran Sains Berbasis Inquiry Based Learning Terintegrasi Nature of Science Terhadap Literasi Sains. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 5(10), 1467. https://doi.org/10.17977/jptpp.v5i10.14131

[11]  Octavia, S. A. (2020). Model-model pembelajaran (I). Deepublish.

[12]  Olson, D. R., & Bailey, R. (2014). Jerome Bruner (Second). Bloomsbury Publishing. https://books.google.co.id/books?id=vlSCBAAAQBAJ

[13]  Rakhmawan, A., Setiabudi, A., & Mudzakir, A. (2015). Perancangan Pembelajaran Literasi Sains Berbasis Inkuiri Pada Kegiatan Laboratorium. Jurnal Penelitian Dan Pembelajaran IPA, 1(1), 143. https://doi.org/10.30870/jppi.v1i1.331

[14]  Setyawati, S. P. (2016). Keefektifan Model Pembelajaran Inquiry Based Learning Untuk Meningkatkan Self Directed Learning Mahasiswa. Nusantara of Research: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri, 3(1).

[15]  Sudrajat, A. (2008). Pengertian Pendekatanx. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, Dan Model Pembelajaran, 12.

 

2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License (CC BY NC) license (https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/).