PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (Efektifitas dan Potensi Kinerja Kelompok)

 

ROLE OF INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY (Effectiveness and Potential of Group Performance)

 

Luthfi Fauziyyah Nur’aiini1, Bambang Samsul Arifin2

12Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Email: fauziyyahluthfi@gmail.com

 

Abstract: In general, performance in a group is carried out by face-to-face meetings, but for now, face-to-face meetings are not only means of communication by workgroups or organizations. In the last 20 years, information and communication technology (ICT) has shown a new communication platform, especially in working groups. So that emerging research that discusses workgroups that focus on new ways to communicate in groups. However, there are no studies to date that express communication via computers in groups over time. The researcher is interested in discussing it with quantitative research methods; data are taken from 44 participants, 22 groups working in face-to-face conditions, and 22 groups working in Zoom Meeting conditions. Participants are 11th-grade students of Madrasah Aliyah Banjaran who are enrolled in extra-curricular entrepreneurship. The mean age was 17 years old, 32 students were male (18%), and 144 were female (82%). The composition of each group has the same proportion. The results showed that virtual communication could improve group performance, and it is necessary to develop group potential in virtual teams.

 

Keywords: Group performance effectiveness, information communication technology, potential performance group.

 

 

PENDAHULUAN

Pada umumnya kinerja dalam suatu kelompok dilakukan dengan pertemuan tatap muka secara langsung. Akan tetapi untuk saat ini pertemuan tatap muka secara langsung bukanlah satu-satunya alat komunikasi oleh kelompok kerja ataupun organisasi.  Pada 20 tahun terakhir ini teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menunjukkan bentuk baru sebagai alat komunikasi khususnya dalam kelompok kerja (Darimi, 2017). Sehingga bermunculan penelitian yang membahas tentang kelompok kerja yang fokus pada cara-cara baru untuk berkomunikasi pada kelompok. Namun tidak ada penelitian hingga saat ini yang mengeksplorasi efek komunikasi melalui komputer pada potensi kelompok dari waktu ke waktu.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar penelitian yang membahas tentang kelompok kecil terfokus pada cara baru komunikasi dan bekerja dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau biasa disebut dengan komunikasi mediasi komputer (Kurmia, 2005). Untuk mempelajari efek mediasi komputer pada suatu proses dan hasil kinerja kelompok para peneliti terdahulu menggunakan pisau analisis yang berbeda ada yang menggunakan teori kehadiran sosial dan pandangan informasi dari penelitian ini dikemukakan bahwa karakteristik objektif media komunikasi menentukan fungsi kelompok. Komunikasi tatap muka memberikan informasi yang lebih kaya daripada komunikasi elektronik karena mediasi komputer umumnya tidak memiliki isyarat konteks sosial atau informasi sosial tentang anggota kelompok kerja. Hasil empiris belum memberikan dukungan yang kuat untuk perspektif ini (Mennecke et al., 2000). Akibatnya, eksklusivitas yang dikaitkan dengan TIK ini telah dipertanyakan (Orengo et al., 2002).

McGrath dan Hollingshead (1993) telah memperluas teori kekayaan media dengan membedakan jenis tugas tertentu untuk berbagai konteks komunikasi dalam model fit media tugas. Mereka berpendapat bahwa pengaruh teknologi pada fungsi dan hasil kelompok akan bergantung pada kesesuaian antara kekayaan media komunikasi, kelompok dan tuntutan informasi tugas. Namun, kesesuaian antara pekerjaan dan teknologi tidak statis tetapi dinamis dan berubah seiring waktu (Sutcliffe, 2005). Pendekatan yang berbeda adalah perspektif pemrosesan informasi sosial. Ini bermaksud untuk menjelaskan hasil kontradiktif yang diperoleh dari penelitian sebelumnya dan untuk menawarkan penjelasan tentang apa yang terjadi dari waktu ke waktu pada penggunaan komunikasi mediasi komputer terkait  pengembangan hubungan interpersonal anggota kelompok (Pratama & Wulanyani, 2018).

Perspektif ini mengasumsikan bahwa pengguna komunikasi mediasi komputer, seperti saat bertatap muka, didorong untuk mengembangkan hubungan sosial. Namun, ada sedikit informasi sosial per pesan pada komunikasi mediasi komputer, karena tidak adanya isyarat nonverbal. Jadi, Singkatnya, pendekatan yang lebih baru mengenai efek komunikasi mediasi komputer, menunjukkan bahwa, seiring berjalannya waktu, kelompok memperoleh pengalaman dalam menggunakan media dan dapat mengembangkan strategi baru untuk berkomunikasi dan melaksanakan tugas. Jadi, perbedaan antara media akan hilang atau berkurang setelah kelompok bekerja dengan komunikasi mediasi komputer, untuk jangka waktu tertentu (Orengo et al., 2002; Sutcliffe, 2005). Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tentang efek teknologi pada kelompok kerja bersifat cross-sectional, dan hasil penelitian longitudinal beragam (Burke et al., 2001; González-Navarro et al., 2010; Orengo et al., 2002).

Oleh karena itu, studi yang lebih longitudinal diperlukan untuk menganalisis perubahan fungsi kelompok dan hasil dalam konteks yang menggunakan komunikasi immediacy komputer (Burke et al., 2001; Orengo et al., 2002). Selain itu, meskipun beberapa studi meneliti efek teknologi komunikasi pada variabel yang berbeda (misalnya, kohesi, kepuasan, dan perilaku socioemotional), juga akan menarik untuk mengeksplorasi pengaruh komunikasi mediasi komputer pada potensi kelompok. Sosik, Avolio, dan Kahai dan Sosik, Avolio, Kahai, dan Jung menganalisis potensi kelompok dalam konteks sistem pendukung keputusan kelompok (GDSS) dan menemukan bahwa potensi kelompok cenderung menurun dari waktu ke waktu (Jung & Sosik, 2003).

Namun para peneliti ini tidak membandingkan kelompok kerja yang didukung komputer dengan kelompok tatap muka. Mengikuti teori berbasis waktu, sehingga dalam hal untuk mengetahui potensi kelompok peneliti memiliki hipotesa sebagai berikut:

1.  Hipotesis 1: Kelompok tatap muka akan menunjukkan tingkat potensi yang lebih tinggi daripada kelompok komunikasi mediasi komputer, pada awalnya.

2.  Hipotesis 2: Perbedaan potensi kelompok antara kelompok komunikasi mediasi komputer, dan kelompok tatap muka akan berkurang seiring waktu.

Shea dan Guzzo sebagaimana dikutip dalam (Putrayasa et al., 2014) mengemukakan bahwa potensi mengarah pada tingkat efektivitas grup yang tinggi. Dalam pengertian ini, berbagai hasil studi menunjukkan bahwa potensi kelompok memiliki pengaruh positif pada hasil kelompok demikian, terdapat bukti bahwa potensi kelompok mempengaruhi efektivitas kelompok.

Namun, peneliti juga berteori bahwa potensi adalah hasil dari efektivitas tim (Putrayasa et al., 2014), yang menunjukkan bahwa kesuksesan sebelumnya dapat memperkuat persepsi dan keyakinan anggota kelompok tentang kelompok mereka (Jung & Sosik, 2003). Bukti empiris menawarkan gambaran yang kompleks. Misalnya Sosik menemukan bahwa pada periode pertama, efektivitas kelompok tidak memprediksi potensi kelompok. Namun, potensi kelompok dan efektivitas kelompok secara timbal balik ini terkait pada periode kedua. Dalam studi longitudinal (Jung & Sosik, 2003), hasil kontroversial serupa ditemukan. Secara khusus mereka menemukan bahwa meskipun potensi kelompok berhubungan positif dan signifikan dengan kinerja kelompok pada periode pertama dan periode kedua, hubungan positif antara kinerja kelompok pada periode pertama dan persepsi potensi kelompok pada periode kedua tidak ditemukan.

Konsisten dengan hipotesis bahwa efektivitas kelompok mempengaruhi potensi kelompok (Putra et al., 2013) menemukan bahwa kinerja awal dikaitkan dengan perubahan potensi kelompok dari waktu ke waktu. Pearce menemukan bahwa efektivitas tim pada periode pertama berhubungan positif dengan potensi kelompok pada periode kedua. Jung dan Sosik menemukan bahwa umpan balik kinerja yang diterima anggota kelompok berpengaruh positif signifikan terhadap potensi kelompok selanjutnya (Jung & Sosik, 2003). Berdasarkan pembahasan dan argumen di atas, peneliti mengharapkan hasil penelitian ini akan menghasilkan statemen sebagaimana pada hipotesa ke 3 yakni:

3.  Hipotesis 3: Efektivitas kelompok akan secara signifikan memprediksi perubahan potensi kelompok dari waktu ke waktu.

Efikasi antara kelompok dan efektivitas kelompok rumit dan dimoderasi oleh faktor tempat kerja lainnya. Karakteristik kontekstual "berpotensi memoderasi kekuatan penjelas dari kelompok karena mereka membantu untuk menentukan jenis informasi yang dirasakan dan sejauh mana informasi ini dihargai selama proses interaksi kelompok. Secara khusus, terdapat kemungkinan peran moderator dari karakteristik tugas dan faktor kontekstual (tingkat kemandirian dan kolektivisme dalam suatu kelompok) dalam hubungan antara kemanjuran kelompok (khasiat kolektif) dan efektivitas kelompok.

Hasil menunjukkan bahwa ketika ketidakpastian tugas tinggi, dan kesalingtergantungan tugas serta kolektivisme rendah, efektivitas kelompok tidak terkait dengan efektivitas kelompok. Namun, ketika ketidakpastian tugas rendah, dan kesalingtergantungan tugas serta kolektivisme tinggi, efektivitas kelompok terkait dengan efektivitas kelompok. Temuan ini mendukung pendekatan kontingensi dalam efektivitas kelompok dan studi hubungan efektivitas kelompok (Gibson, 1999).

Variabel kontekstual penting dalam kelompok kerja adalah media komunikasi. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa kelompok yang menggunakan komunikasi mediasi komputer lebih fokus pada masalah terkait tugas daripada kelompok tatap muka (Orengo et al., 2002). Potensi dalam kelompok yang dimediasi komputer dapat dicapai lebih banyak melalui keberhasilan terkait tugas (yaitu, meningkatkan persepsi efektivitas kelompok) daripada melalui faktor-faktor seperti kesamaan dan ketertarikan antarpribadi "karena faktor-faktor ini kurang menonjol dalam kelompok yang tidak berinteraksi secara langsung (González et al., 2003).

Dengan demikian dalam kondisi tatap muka, efektivitas dapat memainkan peran yang kurang penting dalam menentukan potensi kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa media komunikasi dapat menjadi faktor kontekstual yang memoderasi hubungan antara efektivitas kelompok dan potensi kelompok. Efektivitas kelompok dapat memiliki pengaruh yang lebih besar pada potensi kelompok untuk kelompok yang dimediasi komputer daripada untuk kelompok tatap muka. Namun, belum ada penelitian hingga saat ini yang mengeksplorasi peran moderator dari media komunikasi. Penelitian ini berusaha untuk meningkatkan pemahaman kita tentang hubungan antara efektivitas dan potensi kelompok dengan menguji peran moderasi media komunikasi. Berdasarkan pembahasan dan argumen di atas, peneliti mengajukan hipotesis berikut:

4.  Hipotesis 4: Media komunikasi akan memoderasi hubungan antara efektivitas dan potensi kelompok. Efektivitas kelompok akan memiliki pengaruh yang lebih substansial pada potensi kelompok dalam kelompok yang bekerja di bawah kondisi yang dimediasi komputer daripada dalam kelompok yang bekerja tatap muka.

 



 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tujuan memberikan deskripsi, proses penggambaran dan menjelaskan masalah yang diteliti secara sistematis fenomena yang ada di masyarakat sebagai objek penelitian (Bungin, 2007). Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang meneliti problematika di masyarakat. Dengan kata lain, penelitian ini dilaksanakan dengan cara mengumpulkan data berdasarkan informasi yang diperoleh berdasarkan pengamatan selama proses penelitian berlangsung.

Penelitian ini dilaksanakan dengan proses ilmiah dan tidak ada manipulasi kondisi dan keadaannya melalui proses pembelajaran pada kegiatan ekstrakurikuer. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta yang terdaftar dalam kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.

Untuk menguji hipotesis, peneliti membandingkan dua kondisi eksperimental: komunikasi kelompok dengan tatap muka dengan komunikasi kelompok yang menggunakan komunikasi mediasi komputer. Peserta secara acak membentuk kelompok, dan kelompok secara acak menggunakan media. Kelompok bertemu setiap minggu, berpartisipasi dalam empat sesi dalam satu bulan. Dalam sesi ini, setiap kelompok mengembangkan proyek yang mengharuskan mereka merancang dan merencanakan bisnis dalam bentuk proposal bisnis dan dibagi beberapa sesi. Dalam setiap sesi, anggota kelompok diminta untuk mencapai tujuan tertentu dalam waktu 1 jam. Pada sesi pertama, peserta melaksanakan tugas kreativitas. Setiap kelompok harus menghasilkan maksimal 12 rencana pilihan produk atau jasa beserta alasannya. Pada sesi kedua, setiap kelompok diharuskan melaksanakan tugas perencanaan. Secara khusus, anggota kelompok harus membuat analisis strategis tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan kesulitan mereka dalam menjalankan bisnis yang dirancangnya, dengan menggunakan teknik kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT). Pada sesi ketiga, masing-masing kelompok harus memutuskan empat produk mana yang akan menjadi prioritas perusahaan mereka. Oleh karena itu, mereka mengembangkan tugas pengambilan keputusan. Pada sesi keempat, kelompok diminta untuk melaksanakan tugas dengan motif campuran. Anggota kelompok harus mencapai konsensus dalam melaksanakan perencanaan dan sumber daya perusahaan (yaitu, lokasi fisik, bantuan teknis, personel, dan distribusi manfaat). Sesi-sesi ini membutuhkan periode kerja individu sebelum kelompok kerja.

Peserta yang bekerja dalam kondisi tatap muka ditempatkan di ruangan yang sama, mengelilingi meja, untuk mencapai tujuan setiap sesi. Empat sesi direkam dalam video. Kelompok yang menggunakan komunikasi media komputer, setiap anggota grup ditempatkan di workstation komputer individu. Peserta dalam kondisi ini diinstruksikan untuk berinteraksi satu sama lain hanya melalui komputer setelah sesi dimulai. Perangkat lunak yang digunakan untuk mendukung diskusi kelompok adalah Zoom Meeting. Peserta dilatih untuk menggunakan software ini sebelum memulai sesi pertama. Pelatihan terdiri dari pertemuan antara pelaku eksperimen dan semua anggota kelompok di ruangan yang sama. Pada pertemuan ini, pelaku eksperimen menjelaskan penggunaan Zoom Meeting. Anggota kelompok kemudian berlatih dengan perangkat lunak tersebut dan berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Eksperimen memeriksa bahwa siswa menggunakan perangkat lunak dengan benar selama sesi pelatihan dan membantu mereka yang mengalami kesulitan. Anggota kelompok telah diperkenalkan sebelumnya, dan mereka tahu siapa yang berada di setiap stasiun kerja lainnya ketika mereka memulai kerja kelompok.

 

Participants

Peserta yang ditempatkan 44 dalam kelompok yang masing-masing terdiri dari empat anggota. Dua 22 kelompok bekerja dalam kondisi tatap muka, dan 22 kelompok bekerja dalam kondisi Zoom Meeting. Peserta adalah siswa kelas 11 Madrasah Aliyah Banjaran yang terdaftar extra kurikuler kewirausahaan. Usia rata-rata adalah 17 tahun 32 siswa adalah laki-laki (18%), dan 144 siswa perempuan (82%). komposisi setiap kelompok memiliki proporsi yang hampir sama.

Pengukuran

Potensi kelompok diukur dengan menggunakan tujuh item (Margono, 2013). Anggota kelompok secara individu menyelesaikan tujuh hal di akhir sesi pertama dan sesi keempat, menggunakan skala 5 poin dari 1 (tidak sama sekali) hingga 5 (banyak). Skala ini berisi item-item seperti "Grup saya memiliki keyakinan pada dirinya sendiri," "Grup saya yakin bisa menjadi luar biasa bagus dalam menghasilkan karya berkualitas tinggi," dan "Grup saya mengharapkan untuk dikenal sebagai tim berkinerja tinggi." Koefisien alpha adalah 0,81 pada sesi pertama dan 0,82 pada sesi keempat. Peneliti menghitung indeks potensi kelompok untuk setiap kelompok pada setiap titik waktu, mengumpulkan peringkat anggota individu. Hasil indeks reliabilitas antar penilai dalam kelompok untuk mendukung agregasi. Reliabilitas antar-penilai rata-rata pada sesi pertama adalah 0,87 dan 0,86 pada sesi keempat.

Efektivitas kelompok. Ini diukur dengan empat item yang diambil dari Skala Kuesioner Reaksi pada akhir setiap pertemuan. Contoh item termasuk yang berikut: "Grup melakukan pekerjaan yang sangat baik selama pertemuan ini" dan "Grup ini tidak efektif hari ini." Item diukur pada skala 5 poin dari 1 (tidak sama sekali) hingga 5 (banyak). Alpha Cronbach adalah 0,88 pada sesi pertama dan sesi kedua, 0,86 pada sesi ketiga, dan 0,90 pada sesi keempat. Skor individu pada skala dikumpulkan dalam setiap kelompok kerja. Rata-rata reliabilitas antar penilai adalah .83, .82, 0,85, dan 0,84 untuk sesi pertama, sesi kedua, sesi ketiga, dan sesi keempat. Selain itu, untuk mengeksplorasi efektivitas kelompok pada potensi kelompok, peneliti menghitung rata-rata efektivitas kelompok untuk empat sesi eksperimen.

Tabel 1

Sarana, Deviasi Standar, dan Korelasi Variabel Terukur

Variable

M

SD

1     2

3

4

5

6     7   8

1. Group potency (Time 1)

3.63

0.26

 

 

 

 

 

 

2. Group potency (Time 4)

3.76

0.34

.42**

 

 

 

 

 

3. Group effectiveness (Time 1)

4.10

0.43

.15

.35*

 

 

 

 

4. Group effectiveness (Time 2)

3.64

0.58

.01

.18

.25

 

 

 

5. Group effectiveness (Time 3)

4.02

0.46

.36*

.43**

.28

.40**

 

 

6. Group effectiveness (Time 4)

4.00

0.70

.06

.59**

.47**

.22

.25

 

7. Averaged group effectiveness

3.94

0.38

.18

.57**

.68**

.68**

.65**

.76**

8. Communication media

— –.06

.28

.47**

.29

.25

.34* .48**

*p  .05. **p  .01.

HASIL

Data deskriptif dan korelasi antar variabel penelitian disajikan pada Tabel 1. Selain itu juga disajikan rata-rata efektifitas pada setiap sesi nya untuk memberikan informasi guna memudahkan pemahaman aspek longitudinal penelitian. ANOVA satu arah dilakukan untuk menggali pengaruh media komunikasi terhadap efektivitas kelompok di setiap sesi nya. Efektivitas kelompok secara signifikan lebih tinggi dalam komunikasi tatap muka (M = 4.30, SD = .26) daripada di komunikasi Zoom Meeting (M = 3.90, SD = .48) di Sesi 1, F (1, 42) = 11.56, p <0,001; di Sesi 2 (tatap muka: M = 3.81, SD = .60; Zoom Meeting: M = 3.47, SD = .51), F (1, 42) = 3.90, p <.05; dan di Sesi 4 (tatap muka: M = 4.24, SD = .49; Zoom Meeting: M = 3.76, SD = .81), F (1, 42) = 5.52, p <.05. Pada Sesi 3, perbedaannya tidak signifikan (tatap muka: M = 4,13, SD = 0,47; Zoom Meeting: M = 3,91, SD = 0,42), F (1, 42) = 2,86, p = 0,10.

Pengaruh Media Komunikasi terhadap Potensi Kelompok

ANOVA satu arah dilakukan untuk mengeksplorasi pengaruh media komunikasi terhadap potensi kelompok pada Sesi 1. Hipotesis 1 memprediksi bahwa perubahan / perolehan skor (r = 0,57, p <0,01) memberikan dukungan yang jelas terhadap hipotesis. Selain itu hasil analisis regresi dengan menggunakan residual yang diperoleh dengan meregresi data sesi 4 pada data sesi 1 untuk potensi juga menunjukkan bahwa efektivitas kelompok memprediksi potensi kelompok secara positif (Tabel 3, B = 0,42, p <0,01). Jadi, semakin besar efektivitas yang dirasakan dalam tim, semakin besar pula peningkatan potensi kelompok.

Tabel 2

Hasil Analisis Regresi Hirarkis Moderasi untuk Variabel Potensi Kelompok

Step

Variable

B

R2

R2

F

p

1          Group potency (Time 1)

.54**

.18

.18

8.95**

.01

2                        Group effectiveness Communication media

3                        Interaction

.42**

.05

–.40*

.43

 

.47

.25

 

.04

9.19***

 

2.84*

.001

 

.10

Note: B  unstandardized regression coefficients.

*p  .10. **p  .01. ***p  .001.

Peran Mediator Media Komunikasi antara Efektivitas dan Potensi Kelompok

Untuk menguji Hipotesis 4, kerangka analisis regresi dimoderasi (MRA). Desain longitudinal dari penelitian ini memungkinkan untuk mengikuti metode yang direkomendasikan oleh beberapa penulis untuk menganalisis perubahan dalam variabel potensi kelompok. Skor potensi kelompok Time 1 dimasukkan sebagai prediktor langkah pertama. Dengan demikian, tingkat awal potensi kelompok dikendalikan. Desain ini berfungsi untuk memperkuat argumen bahwa variabel prediktor memainkan peran kausal dalam perubahan potensi kelompok. Pada Langkah 2, variabel prediktor (efektivitas kelompok dan media komunikasi) dimasukkan ke dalam persamaan regresi. Pada Langkah 3, istilah interaksi dimasukkan ke dalam persamaan. Pengaruh yang signifikan menunjukkan bahwa media komunikasi memoderasi hubungan antara efektivitas kelompok dan potensi kelompok.

Interaksi dihitung dengan mencari produk dari variabel penyusun Berikut saran yang dibuat oleh beberapa orang, efektivitas kelompok telah digunakan sebagai sarana untuk mengatasi masalah multikolinieritas.

 

Gambar 1

Efek Interaksi: Efektivitas Grup X Media Komunikasi

Note: F-t-F  face-to-face; Zoom Meeting (software).

Media komunikasi adalah variabel dummy (grup Zoom Meeting = 0, grup tatap muka = ​​1). Uji F signifikansi statistik digunakan untuk menilai perubahan R2 yang dihasilkan dari interaksi antara efektivitas kelompok dan media komunikasi.

Hasil analisis regresi moderator menunjukkan bahwa media komunikasi secara signifikan memoderasi efektivitas kelompok terhadap potensi kelompok (Tabel 3, B = -.40, p <.10). Dalam efek interaksi, tingkat batas konvensional p adalah .10. Tingkat p ini telah disarankan oleh beberapa peneliti untuk melindungi pengujian dari kemungkinan melakukan kesalahan Tipe II saat memoderasi analisis dilakukan. Interaksi menambahkan 4% varian yang signifikan ke kekuatan penjelas independen dari prediktor.

Untuk memperjelas sifat dari efek interaksi, representasi grafis disajikan pada Gambar 1. Efektivitas grup meningkat, dan potensi grup meningkat dalam kondisi Zoom Meeting. Sebaliknya, potensi kelompok yang dirasakan oleh kelompok tatap muka cenderung tetap stabil pada tingkat efektivitas kelompok yang berbeda. Dengan demikian, data peneliti memberikan dukungan untuk Hipotesis 4. Peneliti juga menguji hipotesis ini dengan cara alternatif, seperti yang disarankan oleh peninjau anonim. Jadi, peneliti menghitung koefisien korelasi bivariat antara efektivitas kelompok dan skor perubahan/perolehan (T2 - T1) / T1 potensi untuk setiap kondisi yang dioperasionalkan sebagai tatap muka dan Zoom Meeting. Koefisien untuk kondisi Zoom Meeting (r = .71, p <.01) dan untuk kondisi tatap muka (r = .27, n.s.) berbeda secara signifikan, Z = 1.88, p <.01. Dengan demikian, Media komunikasi memoderasi hubungan antar variabel yang diteliti.

 

PEMBAHASAN

Penelitian ini mengklarifikasi temuan kontradiktif yang diperoleh dari penelitian sebelumnya mengenai pengaruh efektivitas kelompok pada potensi kelompok, memasukkan peran moderasi dari teknologi informasi dan komunikasi. Hasil peneliti menegaskan bahwa teknologi informasi komunikasi merupakan variabel kontingensi penting untuk memahami hubungan antara efektivitas dan potensi kelompok, karena teknologi informasi komunikasi memoderasi pengaruh efek kelompok pada kekuatan.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kelompok tatap muka dan komunikasi mediasi komputer menggunakan Zoom Meeting menerima tingkat potensi kelompok yang sama pada sesi pertama. Kepercayaan kelompok bersama tentang efektivitas kelompok tidak bergantung pada media komunikasi, setidaknya pada awalnya. Hasil ini tidak sesuai dengan perspektif yang disaring isyarat atau teori berbasis waktu (Hollingshead et al., 1993). Bisa jadi anggota kelompok membutuhkan lebih banyak waktu untuk bekerja bersama untuk mengevaluasi efektivitas kelompok.

Selain itu, hasil peneliti menunjukkan bahwa potensi kelompok meningkat dalam kondisi tatap muka seiring waktu. Namun di kelompok Zoom Meeting, daya tetap stabil. Hasil ini juga tidak sesuai dengan teori berbasis waktu (Hollingshead et al., 1993). Satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa kelompok Zoom Meeting membutuhkan lebih banyak waktu untuk meningkatkan keyakinan potensi kelompok (kelompok bekerja selama satu bulan sebanyak empat kali). McGrath (1993) telah menyoroti bahwa studi tentang teknologi yang digunakan oleh kelompok dari waktu ke waktu harus sangat hati-hati untuk membedakan antara dua jenis efek pada fungsi kelompok.

Di satu sisi ada efek dari setiap teknologi baru, hanya karena itu baru, untuk kelompok, dan ini kemungkinan besar akan berkurang seiring waktu. Di sisi lain terdapat efek khusus pada proses dan kinerja fungsi grup penting yang muncul dari fitur khusus teknologi ini. Ini mungkin bertahan atau bahkan meningkat seiring waktu. Jadi, studi tentang interval yang berbeda diperlukan untuk membedakan antara kedua efek komunikasi mediasi komputer ini.

Konsisten dengan Guzo terdapat hipotesis bahwa efektivitas kelompok berpengaruh positif terhadap potensi kelompok selanjutnya. Namun beberapa temuan empiris belum mengkonfirmasi hubungan ini (Jung & Sosik, 2003). Hasil peneliti menunjukkan bahwa kelompok yang menunjukkan tingkat efektivitas yang lebih tinggi selama proyek nantinya memiliki potensi kelompok yang lebih besar. Temuan ini konsisten dengan hasil sebelumnya. Namun beberapa peneliti telah menyarankan bahwa hubungan antara efektivitas dan potensi kelompok mungkin berbeda sebagai fungsi dari karakteristik kontekstual (Gibson, 1999).

Lebih lanjut, hasil peneliti juga menunjukkan bahwa media komunikasi memoderasi hubungan antara efektivitas dan potensi kelompok. Efektivitas kelompok memiliki pengaruh yang lebih besar pada potensi kelompok untuk kelompok yang dimediasi komputer daripada kelompok tatap muka. Hasil ini mendukung pendekatan kontingensi terhadap hubungan antara potensi dan efektivitas kelompok yang ditunjukkan oleh beberapa peneliti (Gibson, 1999). Selain itu, temuan ini menunjukkan bahwa potensi grup dapat dicapai lebih banyak melalui keberhasilan terkait tugas di grup Zoom Meeting dibandingkan dengan grup tatap muka.

Gagasan bahwa hubungan antara efektivitas kelompok dan potensi kelompok bergantung pada media komunikasi menjelaskan mengapa penelitian sebelumnya memiliki temuan yang tidak konsisten. Berdasarkan hasil ini, pengesahan media komunikasi sebagai elemen penentu dapat dibenarkan. Namun penelitian selanjutnya diperlukan untuk menguji lebih lanjut peran moderasi media komunikasi dalam sampel yang berbeda. Selain itu, kemungkinan efek efektivitas kelompok pada potensi kelompok bergantung pada variabel organisasi lain (misalnya, dukungan perusahaan yang dirasakan, gaya kepemimpinan) dan karakteristik kelompok (misalnya, tingkat konflik).

Beberapa saran praktis dapat disimpulkan dari penelitian yang dapat memberikan wawasan tentang pembuatan, pemeliharaan, dan pelatihan kelompok kerja yang berpengaruh dalam organisasi tempat orang bekerja dalam konteks komunikasi yang dimediasi. Hasilnya menggambarkan bagaimana dalam kelompok Zoom Meeting, potensi dapat dimodifikasi melalui intervensi untuk meningkatkan persepsi efektivitas kelompok. Di sini guru harus memberikan pelatihan kepemimpinan yang memadai untuk meningkatkan persepsi anggota kelompok tentang hasil kelompok terutama pada kelompok virtual.

 

KESIMPULAN

Penelitian yang membahas terkait efektifitas kelompok kerja untuk meningkatkan potensi kelompok pada kelompok kerja virtual/kelompok yang berkomunikasi dengan mediasi komputer dari waktu ke waktu dapat disimpulkan bahwa komunikasi virtual dapat meningkatkan kinerja kelompok dan perlu adanya pengembangan potensi kelompok dalam tim virtual.

 

DAFTAR PUSTAKA

Burke, K., Aytes, K., & Chidambaram, L. (2001). Media effects on the development of cohesion and process satisfaction in computer-supported workgroups - An analysis of results from two longitudinal studies. Information Technology & People. https://doi.org/10.1108/09593840110397894

Darimi, I. (2017). TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEBAGAI MEDIA. Pendidikan Teknologi Informasi.

Gibson, C. B. (1999). Do they do what they believe they can? Group efficacy and group effectiveness across tasks and cultures. Academy of Management Journal. https://doi.org/10.2307/257089

González-Navarro, P., Orengo, V., Zornoza, A., Ripoll, P., & Peiró, J. M. (2010). Group interaction styles in a virtual context: The effects on group outcomes. Computers in Human Behavior. https://doi.org/10.1016/j.chb.2010.04.026

González, M. G., Burke, M. J., Santuzzi, A. M., & Bradley, J. C. (2003). The impact of group process variables on the effectiveness of distance collaboration groups. Computers in Human Behavior. https://doi.org/10.1016/S0747-5632(02)00084-5

Hollingshead, A. B., McGrath, J. E., & O’connor, K. M. (1993). Group task performance and communication technology: A Longitudinal Study of Computer-Mediated Versus Face-to-Face Work Groups. Small Group Research. https://doi.org/10.1177/1046496493243003

Jung, D. I., & Sosik, J. J. (2003). Group Potency and Collective Efficacy. Group & Organization Management. https://doi.org/10.1177/1059601102250821

Kurmia, N. (2005). Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Media Baru: Implikasi terhadap Teori Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi. https://doi.org/10.29313/mediator.v6i2.1197

Margono, G. (2013). The Development of Instrument for Measuring Attitudes toward Statistics Using Semantic Differential Scale. 2nd International Seminar on Quality and Affordable Education.

Mennecke, B. E., Valacich, J. S., & Wheeler, B. C. (2000). The Effects of Media and Task on User Performance: A Test of the Task-Media Fit Hypothesis. Group Decision and Negotiation. https://doi.org/10.1023/A:1008770106779

Orengo, V., González Navarro, P., Zornoza Abad, A., & Gosálvez Cuenca, I. (2002). Teamwork in different communication contexts: a longitudinal study. Teamwork in Different Communication Contexts: A Longitudinal Study.

Pratama, P. Y. S., & Wulanyani, N. M. S. (2018). PENGARUH KUANTITAS, KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL, DAN PERILAKU ALTRUISME ANGGOTA KELOMPOK TERHADAP SOCIAL LOAFING DALAM PROSES DISKUSI KELOMPOK DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA. Jurnal Psikologi Udayana. https://doi.org/10.24843/jpu.2018.v05.i01.p18

Putra, S. A., Daharnis, D., & Syahniar, S. (2013). Efektivitas Layanan Bimbingan Kelompok dalam Meningkatkan Self Efficacy Siswa. Konselor. https://doi.org/10.24036/02013221399-0-00

Putrayasa, I. M., Syahruddin, H., & Mergunayasa, I. G. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning Dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha.

Sutcliffe, A. (2005). Extending Small Group Theory for Analysing Complex Systems. Proceedings of 2nd Workshop of Complexity and Design and Engineering.

 

 

Copyright (c) 2021 Luthfi Fauziyyah Nur’aiini and Bambang Samsul Arifin

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.