219
DOI: https://doi.org/10.53754/iscs.v1i2.28
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
KEBIJAKAN DANA KAMPUNG DAN BUDAYA ORGANISASI DALAM MENDUKUNG
KINERJA APARATUR KAMPUNG (Village Fund Policy and Organizational
Culture in Supporting The Performance of Kampung Apparatus)
Muhammad Aryo Widiyoko
Institut Pemerintahan Dalam Negeri
Abstract: This study aims to determine and analyze the effect of implementing
village fund policies and organizational culture on the performance of village
officials. This research is explanatory and associative. The scope variables in
this study consist of the implementation of village policies and organizational
culture as independent variables and the village apparatus's performance as
the dependent. The population in this study were all village officials in Sorong
Regency, as many as 2,486 people. The sampling technique used is the Slovin
sampling formulation using 100 respondents. The data collection method used
a questionnaire with a Likert scale. The analysis technique used is multiple
linear regression. The research results in this study are: (1) the
implementation of the village fund policy partially has a significant effect on
the performance of the village apparatus, (2) the organizational culture
partially has a significant effect on the performance of the village apparatus.
Village apparatus, (3) implementation of village fund policy Simultaneous
organizational and village culture have a significant effect on the performance
of village officials.
Keywords: Performance of village officials, Organizational culture, Village
fund policies.
PENDAHULUAN
Kinerja aparatur pemerintahan daerah di Indonesia semakin hari semakin menuju ke arah
yang lebih baik, perkembangan reformasi terus bergulir menuju ke arah perubahan yang
berdasarkan pada lingkungan yang semakin terus berkembang. Menurut A.A. Anwar Prabu
Mangkunegara (2007) kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya
Salah satu perubahan tersebut adalah desentralisasi yakni adanya pemberian
kewenangan terhadap daerah untuk mengurusi daerahnya sendiri dan melakukan kreasi
terhadap daerahnya sendiri sebagai bentuk cara yang dilakukan untuk mengembangkan
daerahnya. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan layanan pemerintah daerah kepada
masyarakatnya dan memberikan pelayanan yang lebih baik sesuai dengan ketentuan layanan
publik sesuai dengan aturan yang diberlakukan oleh Kemenpan RB.
Setiap pemerintahan kampung diberi dana desa dengan tujuan menurut undang-undang
nomor 6 tahun 2014 adalah untuk meningkatkan pelayanan publik di desa, mengentaskan
kemiskinan, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antar
desa, serta memperkuat masyarakat desa sebagai subjek dari pembangunan, berdasarkan
tujuan tersebut diharapkan alokasi dana desa dapat dikelola oleh kepala desa dan aparat
desa. Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong merupakan salah satu kabupaten di Provinsi
Papua Barat, pemerintah daerah ini terdiri dari sebanyak 30 distrik, 26 kelurahan dengan
memiliki 226 kampung dengan mendapatkan alokasi dana kampung
220
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Menurut Robbins (2002) motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dan
menentukan kemampuan bertindak untuk memuaskan kebutuhan individu. Pendekatan teori
motivasi mendasarkan pada teori David McCleland (1982) bahwa tingkah laku timbul karena
dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dalam diri individu
terdapat tiga kebutuhan pokok yang mendorong tingkah lakunya. Pengukuran motivasi dalam
penelitian ini berdasarkan teori tiga kebutuhan David Mcleland yaitu: Need for Achievement
(nAch), Need for Power (nPow), Need for Affiliation (nAff).
Peningkatan anggaran seharusnya berbanding lurus dengan pelayanan dan kinerja
aparatur kampung. Aparatur kampung memiliki tugas untuk melayani masyarakat namun
yang terjadi justru dana kampung dimanfaatkan untuk kegiatan fiktif, sehingga anggaran
alokasi dana kampung yang seharusnya untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat
justru digunakan untuk menambah kekayaan oknum aparatur kampung.
Alokasi dana kampung di kabupaten Sorong mengalami peningkatan, namun tidak
disertai dengan peningkatan kinerja aparatur kampungnya malah terjadi korupsi dana desa
yang dilaporkan ke kantor kejaksaan. Menurut Abdullahi & Mansor (2015) ada beberapa teori
fraud yang baru dikembangkan yaitu Fraud diamod theory yang dilakukan oleh Wolfe &
Hermanson (2004) yang merupakan perluasan dari teori fraud Cressey dengan menambah
capability sebagai salah satu faktor penyebab seseorang melakukan tindakan fraud.
Implementasi kebijakan tentang alokasi dana kampung telah berjalan hingga 5 tahun
sejak adanya ketentuan pasal 72 undang-undang nomor 6 tentang desa, pendapatan desa
yang bersumber dari alokasi APBN atau dana desa bersumber dari belanja pusat dengan
mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan. Tahun 2015
merupakan awal dikucurkan dana desa, sehingga saat ini belum menunjukkan secara
signifikan terhadap peningkatan pembangunan dan pelayan kepada masyarakat. Kinerja
aparatur kampung berpengaruh pada pembangunan dan pelayanan pemerintah ke arah yang
lebih baik. Kontribusi aparatur sebagai penyelenggara sangat diharapkan, karena mobilitas
penyelenggaraan pemerintahan dimotori oleh pegawainya itu sendiri, untuk itu dilakukan
upaya peningkatan mutu dan kinerja pegawai.
Kinerja aparatur yang baik juga dipengaruhi oleh budaya organisasi, adanya nilai-nilai
kerja yang dipatuhi dan dipedomani bersama oleh para anggota di dalam organisasi secara
tidak langsung dapat meminimalisir terjadinya human eror dalam setiap aktivitas pekerjaan.
Sehingga, menjadi pengendali bagi para anggota organisasi untuk bekerja sesuai dengan
prosedur yang berlaku. Individu akan berusaha memberikan segala usaha yang dimilikinya
dalam rangka membantu organisasi mencapai tujuannya (Mathis et al., 2017, p. 122).
Demikian juga hal nya apa yang diungkapkan oleh Nasution (2017), bahwa para karyawan
yang memiliki komitmen yang kuat akan tetap tinggal bersama organisasi.
Selain itu, adanya komunikasi kerja yang sehat baik antara pimpinan dan pengurus
maupun komunikasi kerja antar pengurus, juga berperan aktif dalam menciptakan budaya
organisasi yang baik. Artinya jika komunikasi kerja berjalan efektif, maka pelaksanaan kerja
dapat dilakukan secara cepat. Budaya organisasi yang baik dapat terefleksi dari tumbuhnya
221
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
inisiatif kerja dari anggota, integrasi yang kuat, dukungan manajemen yang sehat, adanya
sistem kompensasi yang jelas, terciptanya pola komunikasi kerja yang baik antara pimpinan
dengan aparat maupun komunikasi antar aparat. Untuk itu organisasi harus dapat
menciptakan budaya organisasi/perusahaan yang positif sehingga berpengaruh terhadap
kinerja pegawai, hal ini diperkuat dengan pendapat Radiman (2010) yang mengatakan bahwa
Budaya organisasi berkaitan dengan bagaimana karyawan memersepsikan karakteristik dari
budaya suatu organisasi, bukannya dengan apa mereka menyukai budaya itu atau tidak.
Artinya, budaya itu merupakan suatu istilah deskriptif. Budaya organisasi menyatakan suatu
persepsi bersama yang dianut oleh anggota organisasi itu.
Riset ini bukanlah hal yang baru, penelitian Saroinson et al. (2015) mengaji terkait
dengan budaya organisasi dan hubungannya dengan kinerja pegawai. Matuan et al. (2015)
meneliti tentang efektivitas pemerintahan kampung di wilayah Yakuhimo. Nur et al. (2019)
juga meneliti tentang budaya organisasi dan kinerja. Selanjutnya, Sululing et al. (2018)
melakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kepala desa dan
perangkat desa tentang penatausahaan dan pembukuan transaksi keuangan dengan
menggunakan model akuntansi desa. Demikian halnya, Rahayu & Setiyawati (2021)
menganalisis pengaruh kompetensi dari aparatur pemerintah dalam kaitannya dengan dana
desa. Kemudian, Sulila (2020) menyatakan bahwa ada lima faktor penting yang menentukan
efektivitas implementasi kebijakan dana desa di Kabupaten Gorontalo, yaitu 1) Partisipasi,
2) komunikasi, 3) sumber daya, 4) sikap pelaksana 5) struktur organisasi pelaksana, 6)
lingkungan.
Berdasarkan pada beberapa riset dan permasalahan di atas, riset ini bertujuan untuk
menghubungkan beberapa variabel berupa kebijakan dana kampung dan budaya organisasi
dengan kinerja aparatur. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya untuk menghubungkan
faktor budaya organisasi dengan kebijakan dana kampung, yang dalam penelitian
sebelumnya tidak diidentifikasi. Penelitian ini menjadi relevan sebab kinerja pemerintahan
tidak hanya dipengaruhi oleh baik buruknya kebijakan mengenai dana kampung akan tetapi
juga oleh budaya organisasi, seperti yang dipaparkan oleh beberapa peneliti terdahulu. Oleh
karena itu, peneliti berusaha mengaji lebih dalam permasalahan ini.
METODE
Penelitian ini dilakukan di kantor Kabupaten Sorong yang beralamat di Jalan Klamono Aimas
II KM 24, Sorong 98418 Provinsi Papua Barat. Adapun jadwal penelitian Juli-Desember 2020.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian penjelasan (explanatory research) dan assosiatif
yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh antar dua atau lebih variabel.
Adapun ruang lingkup variabel dalam penelitian ini terdiri atas implementasi kebijakan dana
kampung dan budaya organisasi sebagai variabel independen, sedangkan kinerja aparatur
kampung sebagai variabel dependennya. Berikut arah kausalitas antar variabel penelitian
seperti yang disajikan di bawah ini
222
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Gambar 1. Desain Penelitian
Keterangan:
X1 : Implementasi kebijakan dana kampung
X2 : Budaya organisasi
Y : Kinerja aparatur kampung
: Arah pengaruh kausalitas
Berikut operasionalisasi variabel yang ada dalam penelitian ini yaitu seperti yang
disajikan di bawah ini.
Tabel 1. Operasionalisasi Variabel
Variabel
Dimensi
Butir
Implementasi
Kebijakan Dana
Kampung
(X1)
(Jones, 2010)
Organisasi
Interpretasi
Aplikasi
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
Budaya
Organisasi
(X2)
(Robbins, 2015)
Inisiatif
Keterbukaan
Arah
Integrasi
Manajemen
Pengendalian
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
X
1
X
2
Y
223
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Identitas
Kompensasi
Toleransi
Komunikasi
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
Kinerja Aparatur
Kampung
(Y)
(Sudarmanto,
2009)
Kualitas
Kuantitas
Waktu
Efektivitas
Supervisi
Interpresonal
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
Pada penelitian ini implementasi kebijakan dana kampung dan budaya organisasi sebagai
variabel independen dengan notasi X1 dan X2, sedangkan kinerja aparatur kampung sebagai
variabel dependen dengan notasi Y.
Populasi yang ada dalam penelitian ini adalah seluruh seluruh aparatur kampung di
Kabupaten Sorong sebagai suatu hubungan kerja serta penilai kinerja pemerintah desa yaitu
Badan Permusyawaratan Kampung (BAMUSKAM). Populasi penelitian ini berjumlah 2.486
orang dengan rincian sebanyak 1.356 orang sebagai aparatur pemberi pelayanan dan
melakukan pembangunan dan sisanya sebesar 1.130 orang sebagai Badan Permusyawaratan
Kampung selaku menilai kinerja pemerintah desa.
Didasarkan pada kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan biaya yang
tercurahkan dalam melakukan penelitian ini, maka teknik sampling dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan teknik Slovin sampling. Adapun formulasinya adalah sebagai
berikut:
224
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
󰇝󰇛󰇜
󰇞
Keterangan :
n : Jumlah sampel yang dibutuhkan.
N : Jumlah populasi yang ada.
e : Persen kelonggaran ketidaktelitian, karena kesalahan pengambilan sampel yang
masih dapat ditolerir atau yang diinginkan, misalnya 10%.
Maka perhitungan atau penentuan besaran sampel dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:

󰇝󰇛󰇜
󰇞

󰇛
󰇛

󰇜
󰇜

N= 96,13 dibulatkan menjadi 100 aparatur kampung.
Berdasarkan perhitungan di atas, maka selanjutnya sampel minimal yang harus ada
dalam penelitian ini adalah berjumlah 100 responden. Responden dapat diartikan sebagai
orang yang memberikan pendapatnya tentang suatu peristiwa, dalam hal ini terkait dengan
implementasi kebijakan dana kampung, budaya organisasi dan kinerja aparatur kampung
yang ada di Kabupaten Sorong Papua yang terdiri dari: a) Aparatur kampung sebanyak 1.356
orang; b) Kepala dan anggota BAMUSKAM sebanyak 1.120 orang.
Teknik dan instrumen pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
menggunakan instrumen kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan mengenai variabel-
variabel penelitian yang ditanyakan kepada para responden. Adapun skala data yang
digunakan adalah dengan menggunakan skala likert yakni skala interval yang terdiri atas
interval nilai sangat setuju (5), setuju (4), cukup setuju (3), tidak setuju (2), dan sangat
tidak setuju (1).
Adapun instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen
kuesioner yakni berisi beberapa pertanyaan dan atau penyataan terkait dengan variabel-
variabel penelitian yang nantinya diajukan kepada para aparatur kampung yang menjadi
responden dalam penelitian ini. Setelah kuesioner disebar, kemudian hasil jawaban dari para
responden dikumpulkan dalam tabulasi data penelitian untuk selanjutnya diproses lebih
lanjut dengan menggunakan bantuan software statistic SPSS version 26 for windows. Selain
itu, pengumpulan data pada penelitian ini juga menggunakan metode studi kepustakaan yang
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan
mempelajari buku-buku, artikel dan karya tulis ilmiah yang relevan dengan penelitian ini.
Adapun uji instrumen penelitian yang ada dalam penelitian ini adalah seperti yang
disajikan di bawah ini.
Validitas berasal dari kata validitas yang memiliki arti sejauhmana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen
pengukur dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan
fungsi ukurnya yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Tes yang
225
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan sebagai tes
memiliki validitas rendah.
Uji Reliabilitas Data, reliabilitas merupakan terjemahan dari kata reliability yang
memiliki asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut
sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Walaupun reliabilitas memiliki berbagai nama
lain seperti kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi dan sebagainya.
Namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu
pengukuran dapat dipercaya. Berikut kategori nilai coefficient cronbach’s alpha seperti yang
disajikan si bawah ini.
Tabel 2. Interpretasi Koefisien Cronbach’s Alpha
Interval Koefisien
Tingkat Korelasi
0,00 - 0, 19
Sangat Rendah
0,20 - 0,39
Rendah
0,40 - 0,59
Cukup Kuat
0,60 - 0,79
Kuat
0,80 - 1,00
Sangat Kuat
Sumber: (Sugiyono, 1999)
Teknik analisis data bertujuan untuk mengubah data mentah dari hasil pengukuran
menjadi data yang lebih halus, sehingga dapat memberikan arah untuk pengkajian lebih
lanjut yang dalam penelitian ini menggunakan teknik regresi berganda (Sudjana, 2002). Ada
beberapa penyimpangan asumsi klasik yang cepat terjadi dalam penggunaan model regresi
linear berganda (multiple linier regression analysis), diantaranya yaitu, normalitas,
multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi, karenanya perlu dideteksi terlebih
dahulu kemungkinan terjadinya penyimpangan tersebut dengan menggunakan pengujian
asumsi klasik seperti yang disajikan di bawah ini.
Pengujian Normalitas, pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal ataukah
tidak. Pengujian normalitas dapat dilakukan dengan mengamati grafik Normal Probability
Plot. Apabila grafik tersebut menunjukkan titik-titik yang menyebar di sekitar garis lurus
diagonal dan mengikuti arah garis tersebut, maka regresi memiliki distribusi data normal.
Sebaliknya, jika titik-titik menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis
tersebut, maka regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Sudjana, 2002).
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, untuk
variabel bebas, variabel terikat atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Untuk menguji tingkat kenormalan pada data rasio dapat digunakan analisis Normal
Probability Plot (Santoso, 2010). Untuk mendeteksi data normal atau tidak dapat dilihat pada
penyebaran data (titik) pada sumber diagonal grafik.
Pengujian Multikolinieritas, pengujian terhadap multikolinieritas dilakukan untuk
mengetahui apakah variabel bebas saling berkolerasi. Ada hubungan linear diantara variabel-
varabel bebas dalam model regresi. Jika hal ini terjadi maka sangat sulit untuk menentukan
variabel bebas mana yang mempengaruhi variabel terikat. Adapun angka korelasi untuk
226
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
multikolonieritas adalah sampai sebesar 0,80 dan dikatakan multikolenieritas jika memiliki
nilai VIF > 5.
Pengujian Heteroskedastisitas, menurut Santoso (2010) penggunaan uji
heteroskedastisitis untuk menguji terjadinya varians dan residual suatu periode pengamatan
ke pengamatan yang lainnya. Salah satu uji statistik yang lazim dipergunakan adalah uji
Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai
absolut residualnya (Gujarati, 2012). Residual adalah selisih antara nilai observasi dengan
nilai prediksi dan absolut adalah nilai mutlaknya. Setelah diketahui nilai absolut residualnya,
maka variabel-variabel bebas diregresikan dengan nilai absolut residual, apabila hasil regresi
tersebut tidak signifikan baik parsial maupun simultan, maka data penelitian tersebut tidak
mengalami heteroskedastisitas.
Pengujian autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linier
terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu
pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dipastikan terdapat gejala
autokorelasi.
Analisis regresi linier berganda (multiple linier regression analysis) adalah
pengembangan dari regresi linier sederhana (ordinary least square analysis). Kegunaanya
yaitu untuk meramalkan atau memprediksi nilai variabel terikat (Y) apabila variabel bebas
minimal dua atau lebih. Analisis regresi linier berganda merupakan suatu alat analisis
peramalan nilai pengaruh dua variabel bebas atau lebih terhadap variabel terikat untuk
membuktikan ada atau tidaknya pengaruh fungsi atau pengaruh kausalitas diantara dua
variabel bebas atau lebih (
), (
), (
) ….. (
) dengan satu variabel terikat (Riduwan,
2009).
Adapun persamaan regresi linier berganda (multiple linier regression analysis) dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Y= a + b1X1 + b2X2 + e
Keterangan:
Y : Kinerja aparatur kampung
a : Nilai konstanta
b : Nilai beta coefficient unstandardized
X1 : Implementasi kebijakan dana kampung
X2 : Budaya organisasi
ε : Standard error signifikansi alpha sebesar 5%
Adapun dasar pengambilan keputusan untuk pengujian hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima atau
menolak Ha, berarti koefisien regresi variabel penelitian tidak signifikan; b) Jika probabilitas
< 0,05 maka Ho ditolak atau menerima Ha, berarti koefisien regresi variabel penelitian
signifikan.
PEMBAHASAN
1.1 Gambaran Umum Lokasi dan Institusi Penelitian
Kabupaten Sorong adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua Barat Indonesia. Ibukota
kabupaten ini terletak di Aimas. Kabupaten ini merupakan salah satu penghasil minyak utama
227
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
di Indonesia. Populasi penduduk kabupaten Sorong pada tahun 2019 berjumlah 87.994 jiwa,
laki-laki 46.988 jiwa dan perempuan 41.006 jiwa. Kabupaten ini memiliki 30 distrik, dengan
26 kelurahan dan 226 desa atau kampung. Kabupaten Sorong terdiri dari 30 distrik yaitu,
Distrik Klaso, Distrik Saengkeduk, Distrik Makbon, Distrik Klayili, Distrik Beraur, Distrik
Bagun, Distrik Botain, Distrik Klamono, Distrik Klasafet, Distrik Malabotom, Distrik Klabot,
Distrik Buk, Distrik Klawak, Distrik Konhir, Distrik Hobard, Distrik Salawati, Distrik Mayamuk,
Distrik Moisigin, Distrik Seget, Distrik Segun, Distrik Salawati Selatan, Distrik Salawati
Tengah, Distrik Aimas, Distrik, Mariat, Distrik Sorong, Dsitrik Sayosa, Distrik Wemak, Distrik
Sayosa Timur, Distrik Maudus, Distrik Sunoos.
Berdasarkan posisi geografisnya, Kabupaten Sorong memiliki batas- batas wilayah
sebagai berikut:Utara - Samudera Pasifik dan Selat Dampir; Selatan - Laut Seram; Timur -
Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Sorong Selatan; Barat - Kota Sorong, Kabupaten Raja
Ampat dan Laut Seram.Secara astronomis, Kabupaten Sorong terletak antara 00°33’42”
Lintang Utara dan 01°35’29” Lintang Selatan, serta 130°40’49” dan 132°13’48” Bujur Timur.
Menurut sejarah, nama Sorong diambil dari nama sebuah perusahan Belanda yang pada
saat itu diberikan otoritas atau wewenang untuk mengelola dan mengeksploitasi minyak di
wilayah Sorong yaitu Seismic Ondersub Oil Niew Guines atau disingkat SORONG, pemerintah
tradisonal di wilayah Kabupaten Sorong awal mulanya dibentuk olehSultan Tidore guna
perluasan wilayah kesultanan dengan diangkat 4 (empat) orang Raja yang disebut Kalano
Muraha atau Raja Ampat.
1.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan terkait dengan deskriptif variabel-variabel
penelitian, uji keabsahan data, uji asumsi klasik dan hasil pengujian regresi linier berganda
(multipel linier regression analysis).
1.2.1 Hasil Deskriptif Variabel
1.2.1.1 Variabel Kinerja Aparatur Kampung
Variabel kinerja aparatur kampung memiliki sebanyak 8 butir pernyataan dengan
menggunakan 5 skala pengukuran dan menggunakan sebanyak 100 responden. Sehingga
jumlah skor untuk variabel kinerja aparatur kampung yaitu 5 x 8 x 100 = 4.000. Adapun skor
total untuk variabel kinerja aparatur kampung sebesar 2.854 atau dalam persentase sebesar
(2.854 / 4.000) x 100% = 71,35%. Adapun nilai skor tersebut dapat dilihat seperti yang
disajikan pada halaman selanjutnya.
STS TS CS S SS
800 1.600 2.400 3.200 4.000
2.854(71,35%)
Gambar 1. Skala Likert untuk Variabel Kinerja Aparatur Kampung
Sumber: Data primer diolah, 2021.
228
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Berdasarkan Gambar 1. di atas, dapat dijelaskan bahwa sebanyak 71,35% responden
menilai setuju terkait kinerja aparatur kampung di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat
adalah baik.
1.2.1.2 Variabel Implementasi Kebijakan Dana Kampung
Variabel implementasi kebijakan dana kampung memiliki sebanyak 9 butir pernyataan
dengan menggunakan 5 skala pengukuran dan menggunakan sebanyak 100 responden.
Sehingga jumlah skor untuk variabel implementasi kebijakan dana kampung yaitu 5 x 9 x 100
= 4.500. Adapun skor total untuk variabel implementasi kebijakan dana kampung sebesar
3.184 atau dalam persentase sebesar (3.184 / 4.500) x 100% = 70,76%. Adapun nilai skor
tersebut dapat dilihat seperti yang disajikan di bawah ini.
STS TS CS S SS
900 1.800 2.700 3.600 4.500
3.184 (70,76%)
Gambar 2. Skala Likert untuk Variabel Implementasi Kebijakan Dana Kampung
Sumber: Data primer diolah, 2021.
Berdasarkan Gambar 2 dapat dijelaskan bahwa sebanyak 70,76% responden menilai
setuju terkait implementasi kebijakan dana kampung di Kabupaten Sorong Provinsi Papua
Barat berjalan baik.
1.2.1.3 Variabel Budaya Organisasi
Variabel budaya organisasi memiliki sebanyak 17 butir pernyataan dengan menggunakan 5
skala pengukuran dan menggunakan sebanyak 100 responden. Sehingga jumlah skor untuk
variabel budaya organisasi yaitu 5 x 17 x 100 = 8.500. Adapun skor total untuk variabel
budaya organisasi sebesar 6.095 atau dalam persentase sebesar (6.095 / 8.500) x 100% =
71,71%. Adapun nilai skor tersebut dapat dilihat seperti yang disajikan di bawah ini.
STS TS CS S SS
1.700 3.400 5.100 6.800 8.500
6.095 (71,71%)
Gambar 3. Skala Likert untuk Variabel Budaya Organisasi
Sumber: Data primer diolah, 2021.
Berdasarkan Gambar 3 di atas, dapat dijelaskan bahwa sebanyak 71,71% responden
menilai setuju terkait budaya organisasi di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat adalah
baik.
1.2.2 Hasil Pengujian Keabsahan Data
Pada bagian ini peneliti akan pemaparan hasil pengujian validitas data dan reliabilitas yaitu
seperti yang disajikan di bawah ini.
1.2.2.1 Validitas Data
Berikut hasil pengujian validitas data pada masing-masing variabel penelitian yaitu seperti yang
disajikan di bawah ini.
229
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Tabel 3. Uji Validitas Data (Variabel Implementasi Kebijakan Dana Kampung)
Butir
Pearson
r table
Keputusan
Pernyataan
Correlation
n 100, sig α 5%
B1
0,604
0,1946
Valid
B2
0,615
0,1946
Valid
B3
0,592
0,1946
Valid
B4
0,658
0,1946
Valid
B5
0,679
0,1946
Valid
B6
0,659
0,1946
Valid
B7
0,618
0,1946
Valid
B8
0,526
0,1946
Valid
B9
0,638
0,1946
Valid
Sumber: Data Primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 3. di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai pearson correlation pada
masing-masing butir pernyataan lebih besar dari nilai r tabel n 100, sig α 5% yakni sebesar
0,1946. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa seluruh butir pernyataan yang ada pada
variabel implementasi kebijakan dana kampung adalah valid. Selanjutnya berikut hasil
pengujian validitas data untuk variabel budaya organisasi yaitu seperti yang disajikan pada
halaman selanjutnya.
Tabel 4. Uji Validitas Data (Variabel Budaya Organisasi)
Butir
Pearson
r table
Keputusan
Pernyataan
Correlation
n 100, sig α 5%
B10
0,669
0,1946
Valid
B11
0,652
0,1946
Valid
B12
0,603
0,1946
Valid
B13
0,607
0,1946
Valid
B14
0,544
0,1946
Valid
B15
0,558
0,1946
Valid
B16
0,638
0,1946
Valid
B17
0,715
0,1946
Valid
B18
0,625
0,1946
Valid
B19
0,574
0,1946
Valid
B20
0,625
0,1946
Valid
B21
0,595
0,1946
Valid
B22
0,627
0,1946
Valid
B23
0,547
0,1946
Valid
B24
0,678
0,1946
Valid
B25
0,659
0,1946
Valid
B26
0,701
0,1946
Valid
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 4. di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai pearson correlation pada
masing-masing butir pernyataan lebih besar dari nilai r tabel n 100, sig α 5% yakni sebesar
0,1946. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa seluruh butir pernyataan yang ada pada
variabel budaya organisasi adalah valid. Selanjutnya berikut hasil pengujian validitas data
untuk variabel kinerja aparatur kampung yaitu seperti yang disajikan pada halaman
selanjutnya.
230
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Tabel 5. Uji Validitas Data (Variabel Kinerja Aparatur Kampung)
Butir
Pearson
r table
Keputusan
Pernyataan
Correlation
n 100, sig α 5%
B27
0,626
0,1946
Valid
B28
0,705
0,1946
Valid
B29
0,705
0,1946
Valid
B30
0,714
0,1946
Valid
B31
0,685
0,1946
Valid
B32
0,214
0,1946
Valid
B33
0,635
0,1946
Valid
B34
0,619
0,1946
Valid
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 5. di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai pearson correlation pada
masing-masing butir pernyataan lebih besar dari nilai r tabel n 100, sig α 5% yakni sebesar
0,1946. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa seluruh butir pernyataan yang ada pada
variabel kinerja aparatur kampung adalah valid.
1.2.3 Reliabilitas Data
Berikut hasil pengujian reliabilitas data pada masing-masing variabel penelitian yaitu seperti
yang disajikan di bawah ini.
Tabel 6. Uji Reliabilitas Data (Implementasi Kebijakan Dana Kampung)
Butir
Cronbach’s Alpha
r table
Keputusan
Pernyataan
If Item Deleted
n 100, sig α 5%
B1
0,953
0,1946
Reliabel
B2
0,953
0,1946
Reliabel
B3
0,953
0,1946
Reliabel
B4
0,953
0,1946
Reliabel
B5
0,953
0,1946
Reliabel
B6
0,953
0,1946
Reliabel
B7
0,953
0,1946
Reliabel
B8
0,954
0,1946
Reliabel
B9
0,953
0,1946
Reliabel
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 6. dapat dijelaskan bahwa nilai cronbach’s alpha if item deleted pada
masing-masing butir pernyataan lebih besar dari nilai r tabel n 100, sig α 5% yakni sebesar
0,1946. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa seluruh butir pernyataan yang ada pada
variabel implementasi kebijakan dana kampung adalah reliabel. Selanjutnya berikut hasil
pengujian reliabilitas data untuk variabel budaya organisasi yaitu seperti yang disajikan di
bawah ini.
Tabel 7. Uji Reliabilitas Data (Variabel Budaya Organisasi)
Butir
Cronbach’s
Alpha
r table
Keputusan
Pernyataan
If Item Deleted
n 100, sig α 5%
B10
0.953
0,1946
Reliabel
B11
0.953
0,1946
Reliabel
B12
0.953
0,1946
Reliabel
B13
0.953
0,1946
Reliabel
231
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
B14
0.954
0,1946
Reliabel
B15
0.954
0,1946
Reliabel
B16
0.953
0,1946
Reliabel
B17
0.952
0,1946
Reliabel
B18
0.953
0,1946
Reliabel
B19
0.954
0,1946
Reliabel
B20
0.953
0,1946
Reliabel
B21
0.953
0,1946
Reliabel
B22
0.953
0,1946
Reliabel
B23
0.954
0,1946
Reliabel
B24
0.953
0,1946
Reliabel
B25
0.953
0,1946
Reliabel
B26
0.953
0,1946
Reliabel
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 7. di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai cronbach’s alpha if item
deleted pada masing-masing butir pernyataan lebih besar dari nilai r tabel n 100, sig α 5%
yakni sebesar 0,1946. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa seluruh butir pernyataan yang
ada pada variabel budaya organisasi adalah reliabel. Selanjutnya berikut hasil pengujian
reliabilitas data untuk variabel kinerja aparatur kampung yaitu seperti yang disajikan di
bawah ini.
Tabel 8. Uji Reliabilitas Data (Variabel Kinerja Aparatur Kampung)
Butir
Cronbach’s Alpha
r table
Keputusan
Pernyataan
If Item Deleted
n 100, sig α 5%
B27
0.953
0,1946
Reliabel
B28
0.952
0,1946
Reliabel
B29
0.953
0,1946
Reliabel
B30
0.952
0,1946
Reliabel
B31
0.953
0,1946
Reliabel
B32
0.956
0,1946
Reliabel
B33
0.953
0,1946
Reliabel
B34
0.953
0,1946
Reliabel
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 8. di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai cronbach’s alpha if item
deleted pada masing-masing butir pernyataan lebih besar dari nilai r tabel n 100, sig α 5%
yakni sebesar 0,1946. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa seluruh butir pernyataan yang
ada pada variabel kinerja aparatur kampung adalah reliabel. Berikut hasil pengujian
cronbach’s alpha reliability yaitu seperti yang disajikan di bawah ini.
Tabel 9. Hasil Pengujian Cronbach’s Alpha Reliability
Variabel Penelitian
Cronbach's Alpha
Parsial
Simultan
Implementasi Kebijakan Dana Kampung
0,853
0,955
Budaya Organisasi
0,915
Kinerja Aparatur Kampung
0,836
Sumber: Data primer, 2021.
232
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Berdasarkan Tabel 9 dapat dijelaskan bahwa nilai cronbach’s alpha secara parsial
variabel implementasi kebijakan dana kampung sebesar 0,853, variabel budaya organisasi
sebesar 0,915 dan variabel kinerja aparatur kampung sebesar 0,836. Sedangkan, nilai
cronbach’s alpha secara simultan sebesar 0,955. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat
korelasi antara butir-butir pernyataan pada masing-masing variabel independen dan variabel
dependen adalah sangat kuat. Sedangkan tingkat korelasi antar variabel penelitian adalah
sangat kuat.
1.2.4 Hasil Pengujian Deskriptif Statistik
Berikut ini adalah hasil pengujian deskriptif statistik yaitu seperti yang disajikan di bawah
ini.
Tabel 9. Hasil Pengujian Deskriptif Statistik
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
Implementasi Kebijakan
Dana Kampung
100
19.00
43.00
31.8400
5.74671
Budaya Organisasi
100
38.00
77.00
60.9500
10.34689
Kinerja Aparatur
Kampung
100
19.00
39.00
28.5400
5.29230
Valid N (listwise)
100
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 9. di atas, dapat dijelaskan bahwa variabel implementasi kebijakan
dana kampung memiliki nilai minimum sebesar 19 dan nilai maksimum sebesar 43 serta nilai
mean sebesar 31,84 dengan nilai standar deviasi sebesar 5,75. Variabel budaya organisasi
memiliki nilai minimum sebesar 38 dan nilai maksimum sebesar 77 serta nilai mean sebesar
60,95 dengan nilai standar deviasi sebesar 10,35. Sedangkan, variabel kinerja aparatur
kampung memiliki nilai minimum sebesar 19 dan nilai maksimum sebesar 39 serta nilai mean
sebesar 28,54 dengan nilai standar deviasi sebesar 5,29.
1.2.5 Hasil Pengujian Asumsi Klasik
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi gejala-gejala asumsi klasik seperti gejala
normalitas residual, multikolinieritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Oleh karena itu,
maka peneliti perlu untuk melakukan pengujian asumsi-asumsi klasik di atas sebagai salah
satu persyaratan uji regresi dengan hasil seperti yang disajikan di bawah ini.
1.2.6 Normalitas Residual
Pengujian normalitas residual dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
distribusi residual mengikuti atau mendekati distribusi normal.
233
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Gambar 4. Hasil Uji Normalitas Residual
Sumber: Data primer, 2021
Berdasarkan Gambar 4 di atas, dapat dijelaskan bahwa terlihat titik-titik menyebar di
sekitar garis diagonal serta penyebarannya yang mengikuti arah garis diagonal. Maka dapat
diinterpretasikan bahwa model regresi pada penelitian ini telah memenuhi pengujian asumsi
normalitas residual, sehingga data yang ada dalam penelitian ini layak untuk digunakan pada
tahapan analisis selanjutnya.
1.2.7 Multikolinieritas
Pengujian ini digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan linier yang sempurna atau
pasti diantara beberapa data atau semua variabel independen dari model regresi.
Tabel 10. Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model
Collinearity
Statistics
Tolerance
VIF
1
(Constant)
Implementasi Kebijakan Dana
Kampung
0.257
3.887
Budaya Organisasi
0.187
2.049
a. Dependent Variable: Kinerja Aparatur Kampung
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Tabel 10. di atas, dapat dijelaskan bahwa variabel implementasi kebijakan
dana kampung memiliki nilai VIF (variance inflating) sebesar 3,887 10 dengan nilai
tolerance sebesar 0,257 0,10. Sedangkan, variabel budaya organisasi memiliki nilai VIF
(variance inflating) sebesar 2,048 10 dengan nilai tolerance sebesar 0,187 0,10. Hal ini
dapat diinterpretasikan bahwa data pada variabel-variabel independen dalam penelitian ini
tidak ditemukan adanya gejala multikolonieritas.
234
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
1.2.8 Heteroskedastisitas
Pengujian ini digunakan untuk melihat apakah variabel pengganggu memiliki varian yang
sama atau tidak.
Gambar 5. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber: Data primer, 2021.
Berdasarkan Gambar 5. di atas, dapat dijelaskan bahwa titik-titik menyebar secara acak,
tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas serta penyebarannya tersebar secara acak,
baik di atas maupun di bawah pada angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat diinterpretasikan
bahwa data pada penelitian ini tidak ditemukannya adanya gejala heteroskedastisitas.
1.2.9 Autokorelasi
Pengujian autokorelasi digunakan untuk menguji apakah model regresi linier terdapat
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan tingkat kesalahan pengganggu
pada periode t-1. Berikut hasil pengujian autokorelasi seperti yang disajikan pada halaman
selanjutnya.
Tabel 11. Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model
Durbin-Watson
1
2.025
a. Predictors: (Constant), Budaya Organisasi, Implementasi Kebijakan Dana
Kampung
b. Dependent Variable: Kinerja Aparatur Kampung
Sumber: Data primer, 2021
Berdasarkan Tabel 11 di atas, dapat dijelaskan bahwa diperoleh nilai Durbin Watson
(DW) sebesar 2,025. Selanjutnya, nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel Durbin
Watson dengan tingkat signifikansi 5%, dengan jumlah sampel sebesar 100 sampel, dengan
jumlah variabel independen sebanyak 2 atau K=2 yakni 2.100. Maka diperoleh nilai dU
235
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
sebesar 1,7152. Nilai DW sebesar 2,025 lebih besar dari batas atas (dU) yakni 1,7152 dan
kurang dari (4-dU) yakni 4 1,7152 = 2,2848. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa data
pada penelitian ini tidak ditemukannya adanya gejala autokorelasi.
1.2.10 Hasil Pengujian Multiple Linier Regression Analysis
Berikut hasil pengujian hipotesis penelitian secara parsial seperti yang disajikan pada
halaman selanjutnya.
Tabel 12. Hasil Uji Hipotesis Secara Parsial
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std.
Error
Beta
1
(Constant)
1.350
1.643
0.822
0.413
Implementasi Kebijakan Dana
Kampung
0.303
0.093
0.329
3.246
0.002
Budaya Organisasi
0.288
0.052
0.563
5.557
0.000
a. Dependent Variable: Kinerja Aparatur Kampung
Sumber: Data primer, 2021
Berdasarkan Tabel 12. di atas, dapat dijelaskan bahwa variabel implementasi kebijakan
dana kampung memiliki nilai probability signifikansi sebesar 0,002 signifikansi α sebesar
0,05. Maka keputusannya adalah menolak Ho dan menerima Ha. Hal ini dapat
diinterpretasikan bahwa variabel implementasi kebijakan dana kampung secara parsial
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja aparatur kampung. Adapun nilai
unstandardized coefficients beta sebesar 0,303 dapat diinterpertasikan bahwa jika variabel
implementasi kebijakan dana kampung mengalami kenaikan sebesar satu satuan, maka
variabel kinerja aparatur kampung juga akan mengalami kenaikan sebesar 0,303 kali, dan
hal ini berlaku sebaliknya.
Variabel budaya organisasi memiliki nilai probability signifikansi sebesar 0,000
signifikansi α sebesar 0,05. Maka keputusannya adalah menolak Ho dan menerima Ha. Hal
ini dapat diinterpretasikan bahwa variabel budaya organisasi secara parsial memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap kinerja aparatur kampung. Adapun nilai unstandardized
coefficients beta sebesar 0,288 dapat diinterpertasikan bahwa jika variabel budaya
organisasi mengalami kenaikan sebesar satu satuan, maka variabel kinerja aparatur kampung
juga akan mengalami kenaikan sebesar 0,288 kali, dan hal ini berlaku sebaliknya. Berikut
hasil pengujian hipotesis penelitian secara parsial seperti yang disajikan di bawah ini.
236
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Tabel 13. Hasil Uji Hipotesis Secara Simultan
ANOVAa
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
2062.921
2
1031.461
140.934
.000b
Residual
709.919
97
7.319
Total
2772.840
99
a. Dependent Variable: Kualitas Pelayanan Pemerintahan
b. Predictors: (Constant), Budaya Organisasi, Implementasi Kebijakan Dana
Kampung
Sumber: Data primer, 2021
Berdasarkan Tabel 4.12 di atas, dapat dijelaskan bahwa nilai probability signifikansi
0,000 signifikansi α sebesar 0,05. Maka keputusannya adalah menolak Ho dan menerima
Ha. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa variabel implementasi kebijakan dana kampung
dan budaya organisasi secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
aparatur kampung.
Berikut hasil pengujian koefisien determinasi yaitu seperti yang disajikan pada halaman
selanjutnya.
Tabel 14. Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model
R
R
Square
Adjusted
R Square
Std.
Error of
the
Estimate
Change Statistics
R
Square
Change
F
Change
df1
df2
1
.863a
0.744
0.739
2.70532
0.744
140.934
2
97
a. Predictors: (Constant), Budaya Organisasi, Implementasi Kebijakan Dana Kampung
b. Dependent Variable: Kualitas Pelayanan Pemerintahan
Sumber: Data primer, 2021
Berdasarkan Tabel 14. di atas, dapat dijelaskan bahwa pada model regresi diperoleh
nilai R2 sebesar 0,744 atau sebesar 74,40%. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa variabel
implementasi kebijakan dana kampung dan budaya organisasi dapat menjelaskan
pengaruhnya terhadap variabel kinerja aparatur kampung sebesar 74,40% dan sisanya
sebesar 25,60% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lainnya yang belum terdapat dalam
model regresi penelitian ini dan nilai eror. Sedangkan, nilai R sebesar 0,863 atau sebesar
86,30% dapat diinterpretasikan bahwa tingkat keeratan korelasi antara variabel-variabel
independen dan variabel dependen adalah sangat kuat.
1.3 Pembahasan
1.3.1 Pengaruh Implementasi Kebijakan Dana Kampung Terhadap Kinerja Aparatur
Kampung
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada halaman sebelumnya, maka dapat dijelaskan
bahwa variabel implementasi kebijakan dana kampung secara parsial memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap variabel kinerja aparatur kampung. Hal ini mengindikasikan
semakin baik dan jelas pelaksanaan implementasi kebijakan dana kampung, maka akan
237
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
meningkatkan kinerja aparatur kampung baik kinerja secara kualitas maupun secara
kuantitas dan hal ini berlaku sebaliknya. Beberapa peneliti mengatakan bahwa kinerja
aparatur sebagai pencapaian/prestasi seseorang berkenaan dengan tugas-tugas yang
diberikan kepadanya (Ati, 2005; Atmaja & ratnawati, 2018; Gary Dessler, 2004; Marwansyah,
2010).
Keberhasilan pelaksanaan implementasi kebijakan dana kampung tersebut sangat
dipengaruhi oleh faktor komunikasi yang baik antara pihak-pihak terkait, sumber daya
manusia yang ditugaskan untuk mendistribusikan dana kampung, struktur birokrasi yang
tidak rumit, sehingga dapat mendorong pelaksanaan kegiatan tersebut menjadi efektif dan
efisien, serta adanya peran aktif dari tokoh masyarakat maupun masyarakat itu sendiri (Ati,
2005; Atmaja & ratnawati, 2018; Gary Dessler, 2004; Marwansyah, 2010).
Adanya arah pengaruh kausalitas yang positif dan signifikan antara implementasi
kebijakan dana kampung terhadap kinerja aparatur kampung mengindikasikan bahwa
tersedianya sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan keahlian yang mumpuni
di dalam mendistribusikan dana kampung tersebut. Namun demikian, jika merujuk pada nilai
beta coefficient unstandardized yang hanya sebesar 0,303 mengindikasikan bahwa birokrasi
kampung perlu kembali untuk meningkatkan kinerja aparatur-aparaturnya agar peningkatan
kinerjanya setiap tahun semakin baik. Artinya bahwa setiap ada peningkatan kinerja yang
dimiliki para aparatur kampung maka secara langsung akan berdampak pada semakin baiknya
pelaksanaan implementasi kebijakan dana kampung sebesar 30,30 kali.
1.3.2 Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Aparatur Kampung
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada halaman sebelumnya, maka dapat dijelaskan
bahwa variabel budaya organisasi secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
variabel kinerja aparatur kampung. Hal ini mengindikasikan semakin baik budaya organisasi
yang tercermin dari baiknya hubungan dan komunikasi kerja antara pimpinan dengan para
aparatur maupun komunikasi kerja antar aparatur, maka akan meningkatkan kinerja
aparatur kampung baik kinerja secara kualitas maupun secara kuantitas dan hal ini berlaku
sebaliknya.
Mangkunegara (2007) mengatakan bahwa kinerja aparatur sebagai hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang aparatur kampung dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung-jawab yang diberikan kepadanya. Hal ini senada dengan
temuan penelitian sebelumnya bahwa budaya organisasi sebagai norma-norma dan
kebiasaan yang diterima sebagai suatu kebenaran oleh semua acuan bersama diantara
manusia dalam melakukan interaksi organisasi (Nur et al., 2019; Radiman, 2010; Saroinson
et al., 2015).
Adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja
aparatur kampung mengindikasikan bahwa setiap anggota organisasi yang ada dalam sebuah
organisasi birokrasi kampung dapat bekerja sesuai dengan budaya organisasi yang ada di
dalamnya atau dengan kata lain pimpinan dan para aparatur kampung dapat bekerja sesuai
238
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
dengan prosedur yang telah diberlakukan oleh pemerintah yang sesuai dengan tugas dan
fungsinya masing-masing.
Arah pengaruh kausalitas yang positif mengindikasikan bahwa budaya organisasi secara
signifikan dapat mempengaruhi kinerja aparatur kampung. Hal ini dikarenakan budaya
organisasi merupakan kumpulan nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan diterima
bersama oleh para anggota organisasi. Sehingga setiap pekerjaan yang dilakukan harus sesuai
dengan budaya kerja dan atau budaya organisasi yang ada dan berlaku.
Merujuk pada nilai beta coefficient unstandardized sebesar 0,288 mengindikasikan
bahwa pimpinan perlu mengingatkan kembali kepada para aparatur kampung untuk tetap
memperhatikan budaya organisasi dalam setiap penyelesaian pekerjaannya. Hal ini
dilakukan agar setiap anggota organisasi memiliki kinerja di atas minimal kinerja yang
diharapkan oleh pimpinan dalam sebuah organisasi. Jika penerimaan aparatur kampung
dalam menjalankan budaya organisasi naik sebesar satu satuan, maka secara langsung
kinerja aparatur kampung akan mengalami kenaikan sebesar 0,288 kali dan hal ini juga
berlaku sebaliknya.
1.3.3 Pengaruh Implementasi Kebijakan Dana Kampung dan Budaya Organisasi Terhadap
Kinerja Aparatur Kampung
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada halaman sebelumnya, maka dapat dijelaskan
bahwa variabel implementasi kebijakan dana kampung dan variabel budaya organisasi secara
simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kinerja aparatur kampung. Hal
ini mengindikasikan semakin baik dan jelas pelaksanaan implementasi kebijakan dana
kampung dan terciptanya budaya organisasi yang dapat diterima oleh para anggota
organisasi, maka akan meningkatkan kinerja aparatur kampung baik kinerja secara kualitas
maupun secara kuantitas dan hal ini berlaku sebaliknya.
Teori perilaku organisasi (organization behavior) pada hakikatnya mendasarkan
kajiannya pada ilmu perilaku itu sendiri (akar ilmu psikologi) yang dikembangkan dengan
pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam organisasi (McClelland & Boyatzis,
1982). Perilaku organisasi sesungguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku individu yang
terdapat dalam organisasi tersebut. Oleh karena itu, pengkajian masalah perilaku organisasi
jelas akan meliputi atau menyangkut pembahasan mengenai perilaku individu.
Fahmi (2012), mengatakan bahwa penilaian kinerja dari seorang aparatur kampung
merupakan sebuah proses untuk mengevaluasi seberapa baik seorang aparatur dalam
mengerjakan pekerjaan mereka, ketika dibandingkan dengan satu set standar dan kemudian
mengkomunikasikan informasi tersebut. Penilaian yang dilakukan tersebut nantinya akan
menjadi bahan masukan yang berarti dalam menilai kinerja yang dilakukan dan selanjutnya
dapat dilakukan perbaikan dan atau yang biasa disebut perbaikan yang berkelanjutan.
Merujuk pada hasil pengujian hipotesis statistik pada pembahasan sebelumnya diperoleh
nilai signifikansi probabilitas signifikan sebesar 0,00 ≤ signifikansi alpha sebesar 0,05. Hal ini
mengindikasikan bahwa implementasi kebijakan dana kampung dan budaya organisasi secara
simultan terbukti dapat mempengaruhi perolehan kinerja aparatur kampung secara
239
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
signifikan. Adapun nilai r square sebesar 74,40% dapat diinterpretasikan bahwa variabel
implementasi dana kampung dan budaya organisasi dapat menjelaskan pengaruhnya
terhadap kinerja aparatur kampung sebesar 74,40%.
Hasil angka tersebut merefleksikan bahwa kedua variabel independen tersebut
merupakan faktor dominan dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi kinerja aparatur
kampung. Dengan demikian, pimpinan perlu kembali meningkatkan bimbingan teknis bagi
para aparatur kampung agar dapat lebih memahami esensi kebijakan dana kampung bagi
masyarakat desa atau kampungnya. Selain itu, penguatan budaya kerja juga perlu kembali
disosialisasikan agar para aparatur kampung dapat bekerja sesuai dengan budaya kerja dan
atau budaya organisasi yang berlaku di dalam organisasi.
KESIMPULAN
Implementasi kebijakan dana kampung dan budaya organisasi memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja aparatur kampung. Hal ini berarti bahwa budaya organisasi
menentukan perilaku aparatur kampung dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada
masyarakat. Perilaku aparatur kampung yang mendukung pencapaian tujuan pemerintah
desa dalam memberikan pelayanan publik mencerminkan kinerja pemerintah desa yang baik.
Kinerja pemerintahan desa merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan oleh pemerintahan
dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat setempat, hal ini merupakan bentuk
sebuah pengabdian yang dilakukan oleh pemerintahan Desa. Penelitian selanjutnya
hendaknya menambahkan variabel lain yang mempengaruhi kinerja pemerintah desa, seperti
lingkungan kerja. Pemerintah desa sangat perlu memperhatikan lingkungan kerja yang aman,
nyaman sehingga dapat meningkatkan hubungan dengan rekan kerja.
BIBLIOGRAFI
ABDULLAHI, R., & Mansor, N. (2015). Fraud Triangle Theory and Fraud Diamond Theory.
Understanding the Convergent and Divergent For Future Research. International Journal of
Academic Research in Accounting, Finance and Management Sciences, 5.
https://doi.org/10.6007/IJARAFMS/v5-i4/1823
Ati, C. (2005). Strategi dan Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Indeks.
Atmaja, H. E., & ratnawati, shinta. (2018). Pentingnya Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk
Meningkatkan Usaha Kecil Menengah. Jurnal Riset Ekonomi Manajemen (REKOMEN), 2(1),
2134. https://doi.org/10.31002/rn.v2i1.818
Fahmi, I. (2012). Analisis Laporan Keuangan (2nd ed.). Alfabeta.
Gary Dessler. (2004). Manajemen Sumber Daya Manusia (9th ed.). Kelompok Gramedia.
Gujarati, N. (2012). Dasar-dasar ekonometrika buku 2 / Damodar N. Gujarati, Dawn C. Porter;
Penerjemah: Raden Carlos Mangunsong. Jakarta: Salemba Empat.
http://opac.library.um.ac.id/oaipmh/../index.php?s_data=bp_buku&s_field=0&mod=b&cat
=3&id=40447
Mangkunegara, A. A. A. P. (2007). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. PT Remaja
Rosdakarya.
Marwansyah. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia. Alfabeta.
Mathis, R. L., Jackson, J. H., Valentine, S., & Meglich, P. A. (2017). Human resource management.
Matuan, M. M., Kiyai, B., & Laloma, A. (2015). Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan
Kampung di Distrik Silimo Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua. Jurnal Administrasi Publik
(JAP), 1(10). https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JAP/article/view/6624
McClelland, D. C., & Boyatzis, R. E. (1982). Leadership motive pattern and long-term success in
management. Journal of Applied Psychology, 67(6), 737743.
240
Received: 2021-07-11
Revised: 2021-09-07
Approved: 2021-09-16
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
https://doi.org/10.1037/0021-9010.67.6.737
Nasution, M. (2017). THE INFLUENCE OF SUPERVISION AND WORK DISCIPLINE ON
PERFORMANCE OF STATE CIVIL APPARATUS.
Nur, M., Effendy, K., Djaenuri, M. A., & Lukman, S. (2019). Pengaruh Implementasi Kebijakan
Pengawasan, Kompetensi Aparatur dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pengawasan
Bidang Pendidikan Dasar di Kota Depok. JURNAL PAPATUNG, 2(3).
https://doi.org/https://doi.org/10.660303/japp.v2i3.20
Radiman, J. (2010). Efektivitas Budaya Organisasi Pelayanan Publik (Studi Kasus Di Beberapa
Rumah Sakit Pemerintah Di Kota Medan). Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis, 10(1).
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30596%2Fjrab.v10i1.465
Rahayu, P., & Setiyawati, H. (2021). The Influence of Apparatus Competence and Organizational
Commitment on the Quality of Village Funds Financial Reports.
https://doi.org/10.4108/eai.28-9-2020.2307534
Riduwan. (2009). Belajar mudah penelitian untuk guru-karyawan dan peneliti pemula (Akdon
(ed.); 6th ed.). Alfabeta.
Santoso, A. (2010). Studi deskriptif effect size penelitian-penelitian di Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma. Jurnal Penelitian, 14(1).
Saroinson, M. V., Laloma, A., & Ruru, J. M. (2015). Hubungan Budaya Organisasi Dengan Kinerja
Pegawai di Kantor Walikota Manado. Jurnal Administrasi Publik, 1(10).
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JAP/article/view/6540
Sudjana. (2002). Metode statistika. Tarsito.
Sugiyono, D. (1999). Metode Penelitian Bisnis, CV. Alfabeta, Bandung.
Sulila, I. (2020). An Analysis of the Effectiveness of Allocation of Village Fund Policy
Implementation and Its Determining Factors in Gorontalo Regency. Jurnal Ilmiah Ilmu
Administrasi Publik, 9, 191. https://doi.org/10.26858/jiap.v9i2.10947
Sululing, S., Ode, H., & Sono, M. G. (2018). Financial Management Model Village. International
Journal of Applied Business and International Management, 3(2), 105116.
https://doi.org/10.32535/ijabim.v3i2.163
Wolfe, D. T., & Hermanson, D. R. (2004). The Fraud Diamond: Considering the Four Elements of
Fraud. CPA Journal, 74(12), 3842.
Copyright (c) 2021 Muhammad Aryo Widiyoko
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0
International License.