186
DOI: https://doi.org/10.53754/iscs
ASCARYA
Vol. 1 No. 2 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
MARKO EKONOMI DAN PENGENTASAN KEMISKINAN DI INDONESIA
(Analisis
Kemampuan Pertumbuhan Ekonomi dan Indikator Makroekonomi Dalam
Pengentasan Kemiskinan di Indonesia)
Abi Fadillah
Universitas Gadjah Mada
Email: abifadillah@mail.ugm.ac.id
Abstract: Poverty is still a problem in Indonesia's economy. From the colonial
period to 75 years of independence, around 27.55 million people still live below
the poverty line. This paper tries to examine the impact of Indonesia's
macroeconomic variables as proxied by Economic Growth (GDPG), Inward FDI
(FDI), Unemployment (UNM), Inflation (IN), Exports (EXP), Imports (IMP) on
Indonesia's absolute poverty (POVY) with using annual data from 1979-2020.
This study emphasizes economic growth as the primary variable. At the same
time, other independent variables are used as control variables. The method in
this study uses Autoregressive Distributed Lag (ARDL) and applies bounds testing
approach to measuring the long-term relationship between the independent
and dependent variables. The cointegration limit test shows that there is long-
term cointegration between macroeconomic impacts on poverty in Indonesia.
The short-term and long-term ARDL models show that all independent variables
have a significant relationship with poverty in Indonesia.
Keywords : Indonesia, Poverty, Macroeconomic variable, Economic Growth
PENDAHULUAN
Kemiskinan masih menjadi permasalahan laten yang melekat pada bangsa Indonesia.
Sejak masa kolonial hingga 75 tahun merdeka, sekitar 27.55 juta penduduk masih hidup
di bawah garis kemiskinan. Pada pembukaan UUD 1945 yang juga merupakan tujuan
Nasional dari Bangsa Indonesia memang tidak memuat istilah kemiskinan. Namun
pengentasan masalah kemiskinan jelas menjadi tujuan dari terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada alinea keempat menyuratkan “membentuk
suatu pemerintah Negara Indonesia…… untuk memajukan kesejahteraan umum berdasar
kepada .... serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”. Apa yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 itu menunjukkan bahwa para
founding fathers Republik ini sudah memberikan perhatian yang besar terhadap persoalan
kemiskinan. Sebagai Bangsa terjajah, hampir semua rakyat Indonesia berada dalam
cengkeraman kemiskinan, dan hanya sebagian kecil yang hidup berkecukupan.
Sejak tahun 1967, Indonesia mencatat penurunan tingkat kemiskinan yang relatif
tinggi dibandingkan dengan negara-negara kurang berkembang. Dalam kurun waktu 1967-
2020 tingkat kemiskinan menurun secara signifikan dari 60 persen atau 70 juta jiwa
menjadi 10.14 persen atau 27.4 juta jiwa per Maret 2021. Dampak Pandemi Covid-19 telah
membuat tingkat kemiskinan Indonesia kembali di atas satu digit. Ini sesuai dengan
prediksi Bank Dunia pada tingkat skala ringan. Angka kemiskinan akan jauh berbeda jika
diukur dengan garis batas kemiskinan Internasional US1.90 per hari. Tentunya jumlah
orang miskin akan jauh lebih besar dari ukuran absolut saat ini. Menurut Oakland Institute
(2021) menjelaskan Indonesia dijuluki oleh sebagai satu negara yang ajaib pertumbuhan
MACRO ECONOMY AND POVERTY REDUCTION IN INDONESIA (Analysis of
Economic Growth Capability and Macroeconomic Indicators in Poverty
Reduction in Indonesia)
187
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
ekononominya, yang dianggap sebagai The East Asian Miracle. Bank Dunia selalu
mengapresiasi prestasi pembangunan ekonomi dan menempatkan Indonesia dalam posisi
sebagai negara yang sukses pada pembangunan ekonomi di antara negara berkembang.
Sepanjang tahun 2019 misalnya, PDB Indonesia mencapai US$ 1.1 trilliun dan tingkat
pertumbuhan ekonomi mencapai 5.02 persen (BPS, 2021). Tetapi jika kita ukur dengan
PDB/kapita Indonesia hanya mencapai sebesar US$ 4.135, yang jauh lebih kecil dari pada
negara tetangga Malaysia US$ 11.414 serta Thailand US$ 7.806.Bahkan di era pandemi ini,
fokus pemerintah dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi masih diterapkan.
Terutama untuk keluar dari zona resesi. Berbagai kebijakan dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi telah diterapkan oleh pemerintah sebagai upaya pembangunan
ekonomi. Namun, angka kemiskinan yang cenderung menurun tidak sejalan dengan
membaiknya pemerataan di masyarakat. Faktanya, kemiskinan disebabkan kesenjangan
pendapatan dalam masyarakat sehingga ada perbedaan akses untuk terlibat dalam
aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi dan PDB tidak hanya tinggi dan
berkelanjutan, tetapi juga inklusif dan berkeadilan (Asian Development Bank, 2018).
Pengambil kebijakan di Indonesia masih di warnai dengan pandangan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi akan otomatis menetes ke bawah (trickle-down effect). Asumsi
perekonomian Indonesia yang menyatakan kemiskinan hanya mungkin di atasi jika
pertumbuhan ekonomi tinggi perlu dihapuskan. Pertumbuhan ekonomi dan PDB tidak
hanya tinggi dan berkelanjutan, tetapi juga inklusif dan berkeadilan. Ini menjadi
tantangan bagi Indonesia karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus berkualitas dan
terdistribusi secara merata kepada seluruh masyarakat. Terutama di era pandemi Covid-
19 jika tidak segera ditindaklanjuti tentunya angka kemiskinan akan meningkat pada
scenario berat Bank Dunia sebesar 11.6 persen. Pemerintah dan Bank Sentral memiliki
tantangan memadukan kebijakan agar Indonesia keluar dari lingkaran setan kemiskinan.
KAJIAN LITERATUR
Kemiskinan di negara berkembang seperti di Indonesia cenderung dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti ekonomi, sosial, dan politik yang membuat negara berkembang
sulit maju. Muttaqin (2012) menjelaskan dalam temuannya bahwa tindakan kebijakan
pemerintah yang ekspansif berdampak signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan di
negara berkembang. Sementara itu, hasil temuan dari Hasan et.al (2015) menyatakan
kenaikan pertumbuhan ekonomi dan PDB perkapita berdampak signifikan dalam
menurunkan tingkat kemiskinan negara berkembang di Asia Timur dan Asia Selatan.
Kemiskinan akan menurun lebih cepat jika birokrasi di negara-negara berkembang
diperbaiki. Bahkan dalam studi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi
dapat dicapai ketika tingkat upah perkotaan di Inggris dinaikkan. Ketika alokasi upah
pekerja ditingkatkan maka mendorong pendapatan masyarakat. Ritwik dan Joydeb (2016)
meneliti tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi dalam menurunkan kemiskinan di India
188
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
melalui belanja publik yang ditingkatkan. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi memiliki
pengaruh signifikan dalam menurunkan kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi ini
menjadi langkah penting dalam mendorong ekonomi suatu negara dan selanjutnya
menurunkan kemiskinan.
Sementara itu, Pahm (2019) menjelaskan bahwa PDB dan pertumbuhan ekonomi
memiliki pengaruh signifikan dalam mengentaskan kemiskinan di Vietnam. Ini akan
tercapai jika pemerintah Vietnam mempercepat proses restrukturisasi ekonomi dengan
mendorong kenaikan proporsi dari sektor industri, jasa, dan pertanian. Rahman et.al
(2020) dengan menggunakan analisis data panel mendukung penelitian sebelumnya.
Berdasarkan temuannya, pertumbuhan ekonomi menjadi strategi penting dalam
mendorong pembangunan. Secara simultan peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar
satu persen berdampak dalam menurunkan kemiskinan di Empat negara ASEAN yaitu
Kamboja, Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Kenaikan pertumbuhan ekonomi di negara-
negara Afrika Barat sebesar 1% sampai 5% berdampak signifikan dalam mengurangi
kemiskinan.
Inflasi dan penganguran juga berperan dalam menaikkan dan menurunkan kemiskinan
di suatu negara. (Barika, 2015) melakukan penelitian berjudul pengaruh pertumbuhan
ekonomi, belanja pemerintah, pengangguran dan inflasi terhadap tingkat kemiskinan di
Provinsi Sumatera. Barika menemukan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi dan inflasi
tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan provinsi di Sumatera.
Pengeluaran pemerintah dan tingkat pengangguran terbukti signifikan terhadap angka
kemiskinan provinsi di Sumatera. Penelitian dari Chani et al (2011) menyatakan bahwa
kenaikan harga yang melampaui batas merugikan kesejahteraan suatu negara. Hasil
temuannya menunjukkan ketika harga barang naik secara keseluruhan berpengaruh
signifikan terhadap kenaikan angka kemiskinan di Pakistan. Kenaikan angka pengangguran
secara signifikan berdampak positif terhadap naiknya kemiskinan di Pakistan dalam
jangka pendek dan jangka panjang.
Sam (2016) meneliti tentang pengaruh inflasi dan pengenagguran terhadap
kemiskinan di Nigeria. Hasil temuannya menjelaskan bahwa tingkat inflasi harus
terkendali dan tidak lebih dari satu digit agar kemiskinan dapat diatasi. Sedangkan
kenaikan tingkat pengangguran memiliki dampak positif dan signifikan terhadap
kemiskinan karena kesempatan kerja di Nigeria yang rendah. Temuan ini di dukung oleh
penelitian dari Bouhajeb dan Smoui (2016) kenaikan angka pengangguran berdampak
signifikan terhadap kemiskinan di Tunisia. Hal ini disebabkan oleh semakin tingginya
angka pengangguran terdidik di Tunisia. Kenaikan inflasi dan pengangguran ini jelas akan
berdampak pada kenaikan kemiskinan di Nigeria. Oleh karenanya dibutuhkan kebijakan
yang berfokus dalam menurunkan harga dan penyerapan tenaga kerja perlu diterapkan di
Nigeria. Temuan dari Hasaan et.al (2018) juga mendukung penelitian sebelumnya,
189
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
peningkatan inflasi dan pengangguran berdampak signifikan dalam menambah orang
miskin di Pakistan dalam jangka panjang.
Investasi Asing Langsung memiliki dampak terhadap kemiskinan bahkan dapat
menciptakan peningkatan kesejahteraan di negara-negara secara keseluruhan. Semakin
tingginya FDI dapat memberikan nilai tambah pendapatan bagi masyarakat melalui sektor
riil yang berkembang. Koc (2013) menyatakan FDI memiliki pengaruh terhadap tingkat
pendapatan di negara berkembang dan negara di Afrika tetapi tidak signifikan dalam
menurunkan tingkat kemiskinan. Hal ini disebabkan alokasi FDI cenderung tidak merata
kepada masyarakat menengah ke bawah di Afrika. Penelitian dari Utama (2015) alokasi
investasi asing pada sektor publik memiliki hubungan signifikan dalam menurunkan tingkat
kemiskinan di negara anggota integrasi regional ASEAN.
Penelitian sebelumnya berbeda dengan temuan Ruch (2018) alokasi investasi modal
asing untuk sektor publik tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
pengentasan kemiskinan. Kontribusi investasi yang sangat kecil terhadap pengentasan
kemiskinan di Afrika Selatan disebabkan alokasi investasi tidak mencakup keseluruhan
sektor area di Afrika Selatan. Ini dapat terjadi jika jumlah investasi asing pada sektor
publik ditingkatkan ke semua sektor. Sementara itu penelitian dari Quiñonez et.al (2018)
mendukung penelitian sebelumnya, kenaikan alokasi FDI di negara-negara Amerika Latin
tidak berdampak menurunkan tingkat kemiskinan. Berbeda dengan temuan dari Lazreg
dan Zouari (2018) yang menyatakan bahwa FDI berpengaruh signifikan dalam menurunkan
tingkat kemiskinan di negara-negara Afrika Selatan dan Afrika Barat. Oleh karena itu,
negara-negara Afrika Selatan dan Barat di dorong untuk menerapkan kebijakan ekspansi
FDI pada sektor sumber daya alam.
Sementara itu, penelitian dari Teixeira dan Loureiro (2019) menjelaskan aliran FDI
Inward di Pakistan dan Portugal secara statistik memiliki hubungan negatif dan signifikan.
Ini berarti tingkat kemiskinan cenderung menurun dengan peningkatan aliran masuk FDI
ke setiap sektor perekonomian. Fayyaz et.al (2019) mendukung penelitian sebelumnya
bahwa aliran FDI Inward ke negara-negara di Asia berdampak signifikan dalam
menurunkan tingkat kemiskinan. Ini disebabkan FDI menjadi katalis dalam memperkuat
fundamental ekonomi di negara-negara Asia.
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh hubungan dari variabel makro ekonomi Indonesia terhadap penurunan jumlah
penduduk miskin yang ditinjau dari statistik ekonometrika. Dalam penelitian ini
pertumbuhan ekonomi dijadikan sebagai varaiabel utama. Sementara itu variabel
independent lain dijadikan variabel kontrol dalam penelitian. Kajian dalam penelitian ini
akan mengedepankan aspek pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di
Indonesia. Studi-studi yang diamati sebelumnya menekankan aspek pertumbuhan ekonomi
dan indikator makroekonomi sebagai topik utama. Penelitian ini memiliki dua tujuan
190
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
utama yang ingin dicapai yaitu: Menganalisis kemampuan pertumbuhan ekonomi serta
indikator makroekonomi dalam mempengaruhi penurunan kemiskinan di Indonesia.
METODE
Studi ini menggunakan data runtun waktu yang terdiri dari 42 observasi penelitian
mulai dari tahun 1979-2020 dari semua variabel penelitian. Tujuan dari penelitian ini
menekankan pengaruh variabel pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Indonesia.
Variabel lainnya dijadikan variabel kontrol dalam penelitian ini. Variabel dependent
dalam penelitian ini adalah kemiskinan di Indonesia yang diukur oleh Badan Pusat Statistik
dalam angka absolut juta jiwa. Sedangkan variabel independent yang digunakan adalah
pertumbuhan ekonomi (%), FDI Inward (%), Unemployment (%), Inflation (%), Export %,
Import %. Data variabel dependent kemiskinan absolut Indonesia didapatkan dari Badan
Pusat Statistik, sedangkan data variabel independent berasal dari World Development
Indicator World Bank. Secara umum, model yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
POVY
t
= β
0
+ β
1
GDPG
t
+ β
2
FDI
t
+ β
3
IN
t
+ β
4
UNM
t
+ β
5
EX
t
+ β
6
IM
t
+ e
t
(1)
Keterangan:
POVY ` = Jumlah masyarakat miskin (juta jiwa) (Badan Pusat Statistik)
GDPG ` = Pertumbuhan ekonomi (%) (World Bank)
FDI``` = FDI aliran masuk (% of GDP) (World Bank)
IN = Inflasi IHK (%) (World Bank)
UNM = Tingkat Pengangguran (%) (World Bank)
EX = Ekspor (%) (World Bank)
IM = Impor (%) (World Bank)
Dalam hal metode, Autoregressive Ditributed Lag (ARDL) digunakan dalam model
penelitian ini. Untuk menerapkan metode analisis ARDL terdapat beberapa tahapan.
Pertama, diawali dengan menentukan level stasioneritas data untuk mengetahui apakah
variabel stasioner pada level, first level, atau second level. Ketika terdapat hubungan
kointegrasi dalam model maka model yang akan digunakan menjadi model ARDL-ECM
sedangkan jika tidak terdapat hubungan kointegrasi maka model yang digunakan adalah
model ARDL. Ketika terjadi kointegrasi maka model ARDL-ECM :






































(9)
191
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Namun jika tidak terdapat hubungan kointegrasi, maka hanya model persamaan ARDL
yang dapat diterapkan seperti yang dijelaskan di bawah ini:




































(10)
Ketika terjadi kointegrasi maka dapat dijelaskan pada model bahwa adanya
tambahan variabel λECT
t-1
. Simbol λ yang berarti menjelaskan tingkat kecepatan pada
penyesuaian dari variabel sehingga tanda tersebut menjadi negatif. Untuk variabel ECT
menjelaskan Y
t-1
- ϴX
t
sebagai koreksi jika terjadi eror pada jangka waktu sebelumnya.
Nilai F-hitung menjadi acuan untuk menentukan apakah model memiliki hubungan
kointegrasi atau tidak (Hill dan Griffiths, 2018). Ketika F statistik kurang dari alpha lower
bound maka gagal menolak H0 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi hubungan
kointegrasi dan model yang digunakan adalah ARDL. Sedangkan ketika nilai F statistik
lebih dari alpha signifikansi upper bound maka menolak H0 disimpulkan bahwa model
terkointegrasi model yang digunakan ARDL-ECM (Pesaran, Shin & Richard, 2001).
PEMBAHASAN
Hasil Uji Unit Root ADF
Hasil uji akar unit Augmented Dickey Fuller (ADF) dijelaskan pada tabel 2 yang dalam hal
ini terdapat 3 spesifikasi yaitu no trend and intercept, intercept, dan intercept and trend
untuk pengujian akar unit dari masing-masing variabel. Hasil menunjukkan bahwa variabel
POVY dan UNM tidak menunjukkan stasioneritas pada tingkat level I (0) namun stasioner
pada tingkat diferensi pertama I (1) di semua opsi spesifikasi pada alpha lima persen.
Sementara itu variabel GDPG dan IN stasioner pada tingkat level pada alpha 5% dari semua
opsi spesifikasi. Variabel FDI stasioner pada tingkat level di opsi spesifikasi no intercept
dan trend pada alpha 10 persen. Variabel EX stasioner pada alpha 10% di tingkat Intercept
sedangkan IM stasioner pada tingkat level yang masing-masing pada alpha 5% di tingkat
intercept dan 10 persen di tingkat intercept dan trend. Dari hasil tersebut menunjukkan
semua variabel berada pada tingkat stasioneritas yang berbeda baik pada level dan first
difference. Oleh karena itu, model ARDL dapat digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 2. Augmented Dickey-Fuller (ADF) test
Variab
el
Level
First Difference
Infference
s
No
Intercep
t and
Trend
Intercep
t
Intercep
t and
Trend
Intercep
t
Intercep
t and
Trend
POVY
-0.920
-2.496
-2.569
-4.265**
-4.229**
I(1)
:Stasioner
192
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
GDPG
-2.412**
-4.296**
-4.357**
-7.768**
-7.663**
I(0)
:Stasioner
FDI
-1.739*
-2.448
-2.694
-6.097**
-6.010**
I(0) :
Stasioner
IN
-3.127**
-4.973**
-5.195**
-7.880**
-7.769**
I(0) :
Stasioner
UNM
0.407
-1.198
-1.628
-5.391**
-5.266**
I(1)
:Stasioner
EX
-0.860
-2.687*
-2.807
-9.435**
-9.364**
I(0) :
Stasioner
IM
-0.636
-3.248**
-3.414*
-7.063**
-7.154**
I(0)
:Stasioner
Note : ***,**,* menjelaskan stasioner pada a = 1%, 5%, dan 10%
Estimasi ARDL
Table 3 menjelaskan estimasi model ARDL dengan menggunakan maksimum panjang
kelambanan 3 sebagai model terbaik. Oleh karena itu, jika semua kompnen variable
dikalkulasikan maka akan menjadi (2, 2, 1, 3, 3, 3, 3) yang menjelaskan panjang
kelambanan setiap masing-masing variable. Dari hasil tersebut menjelaskan bahwa
variabel GDPG dan IN memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap variabel
dependent kemiskinan pada masing-masing lag yang berbeda. Sementara itu variabel UNM
dan IM menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Untuk
variabel FDI menunjukan pengaruh yang positif namun tidak signifikan. Sama halnya
dengan variabel EX yang menunjukkan pengaruh yang negatif tapi tidak signifikan pada
semua level signifikansi. Hasil statistik ini menunjukkan bahwa dalam hasil regresi awal
variabel dalam penelitian sudah menunjukkan hasil yang baik.
Table 3. ARDL Estimation
Variabel
Coefficient
S.E
t-statistic
Lag POVY
-0.35
0.65
-0.53
GDPG
--.
-0.92
0.38
-2.40**
L1.
-1.79
0.58
-3.04**
L2.
-1.49
0.93
-1.60
FDI
--.
-1.67
1.20
-1.39
L1
0.59
0.67
0.87
IN
--.
-0.62
0.21
-2.94**
L1.
-0.89
0.25
-3.51**
L2.
-0.17
0.41
-2.82**
L3.
-0.54
0.32
-1.70
UNM
193
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
--.
-1.86
1.09
-1.71*
L1.
3.58
1.09
3.27**
L2.
6.13
2.74
2.23**
L3.
-1.73
1.25
-1.38
EX
--.
-0.77
0.67
-1.14
L1.
0.19
0.44
0.43
L2.
-0.19
0.22
-0.85
L3.
-0.21
0.44
-0.47
IM
--.
1.92
0.88
2.19**
L1.
0.74
0.53
1.48
L2.
1.59
0.43
3.69**
L3.
1.42
0.81
1.74*
R-square
0.99
Adj. R-square
0.96
Observasi
36
Note : ***,**,* menjelaskan stasioner pada a = 1%, 5%, dan 10%
Tabel 4. Uji Kointegrasi Bounds Testing
Lower Bound I (0)
Upper Bound I (1)
L_1
1.95
L_1
3.06
L_05
2.22
L_05
3.39
L_025
2.48
L_025
3.7
L_01
2.79
L_01
4.1
F = 4.14
t = --3.07
Uji Kointegrasi Bound Testing
Table 4 menunjukkan hasil uji kointegrasi Bounds Testing. Hasil menunjukkan bahwa nilai
F hitung dari hasil uji kointegrasi Bounds Testing yaitu sebesar 4.14 yang berarti nilai F
hitung lebih besar dari nilai upper bound (I1) pada alpha signifikansi 5% yaitu sebesar
3.39. Nilai F hitung juga lebih besar dari nilai upper bound (I1) pada alpha signifikansi 1%
4.1, pada alpha signifikansi 0.25 sebesar 3.7, dan juga lebih besar pada alpha signifikansi
10 yaitu sebesar 3.06. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model dalam
penelitian ini terdapat hubungan kointegrasi dalam jangka panjang terhadap kemiskinan
di Indonesia. Oleh karena itu dengan adanya hubungan kointegrasi pada model tersebut
maka model yang akan digunakan adalah model ARDL-ECM.
194
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Estimasi ARDL Jangka Pendek
Pengaruh jangka pendek pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan
Sementara itu, untuk analisis jangka pendek ARDL dijelaskan pada tabel 5. Nilai dari
koefisien CointEq(-1) negatif sebesar -1.82 dan signifikan karena t-hitung dari CointEq(-
1) sebesar -10.56 yang signifikan pada alpha 5%. Tanda negatif dari koefisien CointEq(-1)
mengindikasikan bahwa model ARDL-ECM adalah model yang valid dan juga menunjukkan
terdapat suatu hubungan kointegrasi antara variabel dependent dan variabel independen
dari model persamaan. Dalam jangka pendek, variabel GDPG berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia.Hasil temuan ini tidak sejalan dengan
penelitian dari Rahman et al (2020) pertumbuhan ekonomi memiliki dampak yang
signifikan dalam menurunkan kemiskinan di India dan Empat negara ASEAN. Pengaruh
positif dari pertumbuhan ekonomi dimungkinkan kenaikan pertumbuhan ekonomi belum
dapat mengentaskan masalah kemiskinan di Indonesia dalam jangka waktu yang pendek.
Penelitian dari Rahman et.al (2020) mengungkapkan bahwa dalam beberapa dekade
terakhir kenaikan pendapatan perkapita di negara-negara Asia Tenggara termasuk
Indonesia berdampak dalam meningkatkan pendapatan di masyarakat kelas menengah ke
bawah. Namun, kontribusi dari masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tidak
bisa dalam jangka pendek.
Table 5. Estimasi ARDL Jangka Pendek
Variabel
Coefficient
S.E
t-statistic
C
-2.62
0.25
-10.33
GDPG
D(GDPG)
-0.92
0.10
-8.81**
D(GDPG(-1))
1.49
0.26
5.60**
FDI
D(FDI)
-1.67
0.19
-8.67**
IN
D(IN)
-0.62
0.06
-9.31**
D(IN(-1))
1.72
0.21
8.16**
D(IN(-2))
0.54
0.09
6.04**
UNM
D(UNM)
-1.86
0.38
-4.89**
D(UNM(-1))
-4.39
0.68
-6.42**
D(UNM(-2))
1.73
0.38
4.52**
EX
D(EX)
-0.77
0.11
-6.56**
D(EX(-1))
0.40
0.10
4.00**
D(EX(-2))
0.21
0.09
2.13**
IM
195
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
D(IM)
1.92
0.18
10.45**
D(IM(-1))
-3.02
0.32
-9.24**
D(IM(-2))
-1.42
0.25
-5.64**
R-square
0.98
Adj. R-square
0.95
Observasi
36
Note : ***,**,* menjelaskan stasioner pada a = 1%, 5%, dan 10%
Pengaruh jangka pendek FDI terhadap kemiskinan
Sementara tiu, variabel FDI menunjukkan pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap
kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh dari FDI dalam jangka pendek dapat
menurunkan kemiskinan sebesar 1.67 persen. Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian
dari dari Khan et.al (2019) Teixeira dan Loureiro (2019) yang menjelaskan ketika aliran
FDI Inward di Pakistan dan Portugal mengalami kenaikan maka berdampak dalam
menurunkan tingkat kemiskinan di kedua negara itu. Hubungan negatif antara FDI Inward
dan kemiskinan di Indonesia dimungkinkan karena pengaruh dari investasi asing ke
Indonesia memberikan efek kepada sektor ekonomi dalam negeri. Menurut laporan ADB
(2018) menjelaskan bahwa negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, kebanyakan
mendapatkan suntikan dana pada sektor kesehatan, jasa keuangan, bisnis retail, jasa
aktivitas bisnis yang mencapai sekitar 60%-70% dalam lima tahun terakhir. Indonesia yang
terus gencar dalam mendorong FDI karena tujuannya untuk dapat menciptakan lingkungan
Kawasan bisnis dan mengembangkan industri melalui investasi asing yang ditingkatkan
pada sektor jasa (Ziegenhain, 2020). Investasi asing perlu juga untuk dievaluasi. Karena
pada dasarnya investasi asing hanya akan menguntungkan stake holder yang tentunya ada
di luar negeri. Selain itu, Indonesia sering terjadi kondisi politik yang gaduh. Dengan
instabilitas politik dan polemik yang justru datang dari pemerintah itu sudah tentu justru
akan memberikan dampak negatif terhadap pembangunan khususnya pengentasan
kemiskinan. Kondisi yang demikian mengakibatkan kurang kondusifnya dunia investasi.
Pengaruh jangka pendek inflasi dan pengangguran terhadap kemiskinan
Untuk variabel IN dan UNM menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
kemiskinan di Indonesia dalam jangka pendek. Hasil ini di dukung dengan temuan dari
Hasan et.al (2015) yang menjelaskan kenaikan inflasi berdampak dalam meningkatkan
masyarakat miskin di Pakistan. Menurut Ponciano (2016) menjelaskan bahwa Indonesia,
Malaysia, Singapore, dan negara Asia Tenggara lainnya sudah bekerja sama dalam
mengendalikan tingkat inflasi. Tujuannya agar inflasi berada pada level inflasi rendah.
Rata-rata inflasi di Indonesia tercatat sekitar 3%-4% dalam lima tahun terakhir. Tingkat
inflasi di Indonesia yang berada pada level inflasi rendah ini disebabkan oleh kebijakan
yang diambil oleh pemerintah dan Bank Sentral dalam mengendalikan tingkat inflasi.
Pengangguran yang berpengaruh positif terhadap kemiskinan dimungkinkan Indonesia
masih fokus dalam mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi. Ini menjadi kesalahan
196
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
mendasar dalam asumsi perekonomian Indonesia jika pengangguran dan kemiskinan hanya
mungkin diatasi saat ekonomi tumbuh minimal (misalnya) 6,5 %. Pengangguran dan
kemiskinan dapat di atasi jika pertumbuhan ekonomi melibatkan kegiatan ekonomi rakyat
yang pelakunya adalah masyarakat miskin. Pengangguran dan kemiskinan adalah dua hal
berbeda. Orang yang menganggur belum tentu miskin. Ilustrasinyajika, 1% pertumbuhan
diasumsikan mampu menampung 200.000-400.000 tenaga kerja baru, maka pertumbuhan
6.5 % hanya mampu mempekerjakan 1,3 juta-2,6 juta tenaga kerja dan tidak ada jaminan
bagi penduduk miskin.
Pengaruh jangka pendek ekspor dan impor terhadap kemiskinan
Variabel EX menunjukkan pengaruh positif dan siginifikan sedangkan variabel IMPT
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia. Hasil ini berbeda
dengan temuan dari Zaher (2017) menemukan globalisasi dan keterbukaan perdagangan
dari sisi ekspor dan impor berdampak positif terhadap kemiskinan di Nigeria dan Pakistan
dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia cenderung membuka pasarnya dan
mempromosikan penanaman modal asing untuk meningkatkan lapangan kerja dan
meningkatkan produktivitas yang berorientasi ekspor industri dan ekspor barang jasa
(Zaher, 2017) Tercatat ekspor Indonesia sekitar 20 persen dari PDB dalam satu decade
terakhir (ADB, 2018). Namun, perusahaan atau usaha yang bergerak pada sektor ekonomi
lain akan terdampak dari aktivitas ini karena kurangnya akan dukungan. Produksi akan
menurun akibat permintaan rendah dan berdampak pada kenaikan beban biaya variabel
mereka. Sementara itu, sektor impor berpengaruh negatif dimungkinkan dengan adanya
integrasi ekonomi di lintas ASEAN berdampak dalam membuka lapangan kerja baru yang
nantinya dapat menurunkan kemiskinan. Peran ekspor bagi Indonesia memang menjadi
kesempatan dalam liberalisasi ekonomi.
Bahkan, Indonesia secara bertahap telah berupaya mempersiapkan eksportir untuk
bersaing di pasar dalam negeri dan pasar internasional. Kebijakan persaingan operasional
telah dirancang dengan baik dalam mendukung kebijakan ekonomi lainnya, termasuk
liberalisasi perdagangan, pengembangan industri, dan promosi investasi. Dengan
mengurangi hambatan masuk, kebijakan persaingan juga mendorong terbentuknya
industri pendukung yang kuat dan meningkatkan efisiensi UKM (ADB, 2018). Namun,
hambatan yang sering terjadi salah satunya adalah strategi yang kurang responsive
terhadap ekspor ini. Ekspor cenderung banyak dilakukan oleh usaha besar dan raksasa
saja. Dengan demikian upaya menyelamatkan orang miskin dengan membuka lapangan
kerja baru bagi mereka akan kecil kemungkinannya. Ritwik dan Joydeb (2016) yang
menjelaskan bahwa kenaikan belanja pemerintah, belanja publik, dan subsidi dapat
menurunkan kemiskinan di India. Bisa jadi disebabkan oleh lag yang mengharuskan
masyarakat menyimpan uangnya dan belum membelanjakannya saat mereka
mendapatkan bantuan subsidi. Namun, di sisi lain hal yang paling banyak diperbincangkan
yaitu adalah masalah subsidi yang tidak tepat sasaran. Terkadang subsidi yang diberikan
197
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
untuk membantu masyarakat miskin lebih banyak tidak tepat sasaran. Ini karena subsidi
lebih banyak diberikan pada komoditi daripada kepada individu yang dinyatakan miskin.
Table 6. Estimasi ARDL Jangka Panjang
Variabel
Coefficient
S.E
t-statistic
LR
GDPG
-2.31
0.34
-6.73**
FDI
-0.58
0.89
-0.65
IN
-1.77
0.44
-3.96**
UNM
3.34
0.46
7.25**
EX
-0.53
0.29
-1.82*
IM
3.14
0.64
4.86**
EC=POV - (-2.3118* EG - 0.5881* FDI - 1.7765* INF + 3.3474* UNMP - 0.5384* EXPT +
3.1457* IMPT)
Note : ***,**,* menunjukan signifikan pada alpha 1%, 5%, dan 10%
Dalam konteks regulasi, laju pertumbuhan tidak dapat dipercepat karena adanya
birokrasi dan regulasi yang terlalu panjang. Sistem pertanggung jawaban yang sangat
tidak efisien akan menghambat proses pengentasan kemiskinan itu sendiri. Oleh karena
itu sering terjadi resiko asimetric informasi saat terjadi adanya bantuan seperti subsidi
keseluruh wilayah Indonesia. Inkonsistensi antar setiap lembaga dari pusat sampai
pedesaan menimbulkan adverse selection. Selain itu. progam kebijakan juga tidak adanya
program follow up. Program- program yang dihadirkan saling terpisah satu dengan yang
lainnya. Di lain pihak, satu program yang ada tidak diikuti dengan program lain yang
mampu menunjang program pertama. Tentu pengembangan menjadi sangat terbatas.
Individu yang berhasil lepas dari kemiskinan setelah mendapat program yang pertama
kemudian dapat kembali masuk dalam kelompok miskin.
Estimasi ARDL Jangka Panjang
Pengaruh jangka panjang pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan
Table 6 menunjukkan hasil estimasi ARDL jangka panjang. Variabel GDPG memiliki
pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap variabel dependent kemiskinan pada alpha
5 persen. Hasil ini didukung oleh temuan Ritwik dan Joydeb (2016) pertumbuhan ekonomi
memiliki dampak yang signifikan dalam menurunkan kemiskinan di India dan Empat negara
ASEAN. Pengaruh negatif dari pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan dimungkinkan
karena pembangunan yang dilakukan oleh Indonesia dalam beberapa dekade terakhir
ternyata cukup berhasil menekan angka kemiskinan. Hal ini dikarenakan Indonesia
198
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
cenderung menerapkan konsep pembangunan Trickle-down Effect yang harapannya
pembangunan ini dapat menetes kebawah sehingga memberikan keuntungan bagi
masyarakat lapisan bawah. Misalkan saja rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia yang
cenderung tinggi. Bahkan melebihi rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan
ekonomi juga diikuti dengan penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia Alekhina dan
Ganelli (2020). Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan
mendorong invetasi asing sebagai tiang penyangga dalam variabel pendapatan nasional
dan berdampak dalam penciptaan lapangan kerja baru (Utama, 2015) Lapangan kerja baru
membuat ekonomi masyarakat di ASEAN meningkat sehingga mereka dapat berkontribusi
dalam pie chart perekonomian. Oleh karena itu Trickle-down Effect yang melekat pada
Growth Paradigm cukup terbukti dan bahkan membuat ekonomi masyarakat bawah
tumbuh sehingga keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Strategi yang terus digencarkan
oleh negara-negara Asia ini dikenal dengan istilah Redistribution Growth Theory (Hamid,
2017).
Pengaruh jangka panjang inflasi dan pengangguran terhadap kemiskinan
Variabel IN memiliki pengaruh yang negatif dalam jangka panjang yang tentunya berbeda
dengan jangka pendek yang bersifat positif. Pengaruh negatif dalam jangka panjang
dimungkinkan seiring dengan kenaikan harga barang secara terus menerus, maka
masyarakat miskin tetap mendapatkan pendapatan dan masih bisa untuk meningkatkan
konsumsinya. Hal ini disebabkan oleh adanya bantuan dari pemerintah melalui subsidi dan
penurunan pajak. Sementara itu variabel UNM memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan dalam jangka panjang. Pengangguran yang berpengaruh positif terhadap
kemiskinan sama seperti analisis jangka pendek karena dimungkinkan Indonesia masih
fokus dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Pengaruh jangka panjang ekspor dan impor terhadap kemiskinan
Untuk variabel EX dan IM menunjukkan perbedaan dalam jangka panjang. Varaiabel EXPT
memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kemiskinan dalam jangka
panjang. Sementara itu, variabel IM berpengaruh positif dan signifikan. Pengaruh negatif
dari EX dimungkinkan karena dalam jangka panjang pengaruh ekspor yang dilakukan oleh
Indonesia berdampak dalam menurunkan masyarakat miskin. Hal ini disebabkan oleh
adanya pendapatan yang semakin tinggi bagi Indonesia. Pendapatan yang semakin tinggi
ini berpengaruh dalam mendorong belanja pemerintah, subsidi, dan pajak Rahman et al
(2020). Sama halnya dengan impor yang berpengaruh positif dalam jangka panjang yang
dimungkinkan karena semakin banyak dan beragamnya barang impor berdampak dalam
kenaikan harga yang semakin tinggi. Harga yang semakin tinggi berpengaruh terhadap
daya beli masyarkat yang cenderung menurun. Dampaknya mereka akan sulit
mendapatkan barang dan berada dalam lingkaran kemiskinan.
199
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Disamping itu juga, masyarakat miskin yang mendapatkan bantuan sosial telah
melakukan transaksi sehingga terjadi perputaran uang yang pada akhirnya akan
mendorong pendapatan masyarakat miskin itu sendiri. Menurut Hamid (2017) menjelaskan
bahwa strategi yang tak kalah pentingnya adalah upaya pembangunan sumber daya
manusia melalui subsidi kesehatan dan pendidikan yang tepat sasaran. Hal ini juga terkait
dengan upaya follow up kebijakan dengan fasilitas. Misalnya dalam dunia pendidikan,
begitu banyak beasiswa yang dikeluarkan pemerintah. Meski banyak sekali, namun
kenyataannya syarat yang diperlukan untuk mendapat beasiswa tersebut tidaklah mudah.
Oleh karena itu, dengan adanya bantuan dari subsidi baik tunai dan non-tunai pada bidang
SDM. Hal ini dapat mendorong kualitas SDM Indonesia dalam jangka panjang. Indonesia
sudah sangat banyak upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Jika kita melihat secara absolut, maka berbagai kebijakan
tersebut telah memberikan hasil nyata, yakni meningkatnya secara umum kesejahteraan
masyarakat. Pemenuhan kebutuhan pokok (basic needs) semakin tinggi. Masyarakat yang
kaya juga semakin banyak. Sampai Desember 2020, sebanyak 185.273 rekening
masyarakat yang memiliki tabungan lebih besar dari Rp 2 miliar dan sebanyak 108.535
rekening tabungan masyarakat di atas Rp 5 milliar Hal ini tidak pernah terjadi pada masa
dua atau tiga dekade yang lalu.
Namun demikian, di tengah peningkatan kesejahteraan sebagian masyarakat
tersebut, masih banyak juga yang tersendat-sendat peningkatan kesejahteraannya,
bahkan masih hidup dalam kemiskinan, ataupun berada dalam posisi menganggur. Jika
dilihat dari potensi Indonesia yang relative kaya sumber daya-nya, maka hal seperti ini
tidak seharusnya terjadi. Oleh karena itu, perlu ada orientasi kebijakan yang jelas untuk
menghilangkan kemiskinan absolut ini, dengan kebijakan yang secara tegas berpihak dan
mengarah untuk meningkatkan kesejahteraan lapisan bawah dengan program-program
Pendidikan, kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha. Kebijakan bukanlah untuk
menghilangkan kemsikinan secara sementara, namun betul-betul permanen. Jika
berbicara strategi yang tepat, maka sudah seharusnya kita mengubah paradigma ekonomi
yang cenderung liberalistik menjadi berparadigma Pancasila. Sesungguhnya ekonomi
kerakyatan yang berdasar pada Pancasila ini telah kita miliki dan tertuang dalam UUD
1945. Tetapi hingga saat ini tidak ada komitmen yang jelas dari pemerintah untuk
melaksanakannya. Indonesia justru terjebak dalam sistem ekonomi liberal yang tidak
sesuai dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini.
Melalui paradigma ekonomi kerakyatan, maka konsep ini akan lebih mengutamakan
pemerataan ekonomi dan kesejahteraan sehingga fundamental perekonomian berdasar
pada kekuatan sendiri. Mengembangkan Sistem Ekonomi Kerakyatan menjadi kesempatan
bagi Indonesia untuk mendorong semua ukuran atau indikator kesejahteraan yang
nantinya akan menciptakan pemerataan pembangunan bagi Indonesia. Selain itu, untuk
mencapai kesejahteraan bagi bangsa Indonesia, maka penguatan pada sektor menengah
kebawah harus diperhatikan lagi. Sejauh ini masalah Indonesia masih berada pada
200
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
masalah yang masyarakatnya rentan miskin. Maka dari itu dengan memperkuat
pendapatan mereka, menjaga ketahanannya akan menstabilkan ekonomi nasional
walaupun ketika terjadi shock baik dari dalam dan luar negeri. Pemerintah telah
menerapkan strategi yang akan menjadi prioritas utama pertumbuhan dan strategi
pemerataan di Indonesia dalam RPJMN 2020-2024. Strategi yang akan diimplementasikan
oleh pemerintah pada pertumbuhan ekonomi yaitu dengan mendorong investasi baik
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Investasi ini
akan dialokasikan pada setiap sektor yang akan mendorong pusat-pusat pertumbuhan di
wilayah Indonesia sehingga nantinya dengan investasi, sektor riil akan lebih berproduksi
dan menciptakan perekonomian yang meningkat di setiap wilayah.
KESIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari variabel ekonomi makro terhadap
tingkat kemiskinan di Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa semua variabel independent
berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Dalam jangka pendek semua variabel
memiliki pengaruh yang signifikan. Begitupun dengan jangka panjang, keculi FDI yang
tidak signifikan. Pengaruh dari variabel pertumbuhan ekonomi dan makroekonomi ini
perlu diperhatikan bagi pemangku kepentingan dalam mengambil suatu kebijakan yang
nantinya akan memberikan dampak terhadap masyarakat di suatu negara. Secara
mayoritas dalam penelitian ini pengaruh terbesar berasal dari pertumbuhan ekonomi dan
pengangguran yang menyebabkan tingkat kemiskian dapat meningkat. Dari temuan studi
tersebut, terlihat bahwa otoritas baik pemerintah dan Bank Sentral harus mewaspadai
perkembangan ekonomi makro dan tidak selalu berfokus pada paradigma pertumbuhan.
Terlepas dari keuntungan yang akan diberikan akibat meningkatnya ekonomi. Namun,
kekuatan dan kebijakan yang tidak objektif berdampak pada melebarnya jumlah
masyarakat miskin di Indonesia.
BIBLIOGRAFI
Asia Development Bank (2018) ASEAN 2030: Toward a Borderless Economic Community.
Retrieved from:https://www.adb.org/sites/default/files/publication/159312/adbi-
asean-2030-borderless-economic-community.pdf
Alekhina. V and Ganell. G (2020) Determinants of Inclusive Growth in ASEAN. IMF Working
Papers. ISBN/ISSN:9781513549194/1018-5941. Retrieved from:
https://www.imf.org/en/Publications/WP/Issues/2020/07/03/Determinants-of-
Inclusive-Growth-in-ASEAN-49547
Barika (2015) Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah, Pengangguran, dan
Inflasi Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi se-Sumatera. Unib Scholar Repository.
Vol 5 (1), 27-36.
201
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Badan Pusat Statistik (2021) Gini Ratio September 2020. Retrieved from :
https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/01/15/1747/gini-ratio-september-2019-
tercatat-sebesar-0-380.html
Badan Pusat Statistik (2021) Persentase Penduduk Miskin September 2020 Retrieved from :
https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/01/15/1743/
Chani, M.I., Pervaiz, Z., Jan, S.A., Ali, A., and Chaudary, A.R (2011). Poverty, Inflation and
Economic Growth: Empirical Evidence from Pakistan. World Applied Sciences Journal,
14(7), 1058-1063.
Fayyaz.A, Muhammad Umar Draz, Lijuan Su, Ilhan Ozturk, Abdul Rauf, and Shahid Ali (2019)
Impact of FDI Inflows on Poverty Reduction in the ASEAN and SAARC Economies.
Sustainability MDPI, , vol. 11(9), pages 1-24.
Hasan. SA, Zaman, K and Gul S (2015) The Relationship between Growth-Inequality-Poverty
Triangle and Environmental Degradation: Unveiling the Reality. Arab Economic and
Business Journal. Volume 10, Issue 1, June 2015, Pages 57-71.
Hamid, E.S (2017) Strategi Pembangunan dan Problematika dalam Mengatasi Kemiskinan dan
Ketimpangan di Indonesia. KAHMI.
Hasaan. Kalid. and Kayai, A.A (2018) Evaluating the Dilemma of Inflation, Poverty and
Unemployment," Bulletin of Business and Economics (BBE). Research Foundation for
Humanity (RFH), vol. 5(2), pages 67-82, June
Hill, Carter and William Griffiths, (2018). Principle econometrics (3ed). New York: John Willey
& Son.
Khan.M.B, Huobao.X, and Saleem.H (2019) Direct Impact of Inflow of Foreign Direct Investment
on Poverty Reduction in Pakistan: a Bondstesting Approach. Economic Research-
Ekonomska Istraživanja, 32:1, 3647-3666.
Korankye, B, Wen,X, Michael, A and Baah-Nketiah, E (2020) Analyzing Economic Growth and
Its impact on Poverty Reduction in Africa. International Journal of Science and Business.
Vol. 4, issue 12, 93-105.
Lazreg,M and Zouari, E (2018) The Relationship Between FDI, Poverty Reduction, and
Environmental Sustainability in Tunisia. Working Papers, 01756733.
Muttaqin, Z (2012) Economic Growth and Equality Reducing Poverty. Signifikan Jurnal
Ekonomi. Vol.1 No.1.
Bouhajeb, M and Smoui (2016) Higher education, Graduate unemployment, Poverty and
Economic growth in Tunisia, 1990-2013. Atlantic Review of Economics (2011-2016), vol.
1, pages 1-1.
Ogunniyi and Igberi (2014) The Impact of Foreign Direct Investment on Poverty Reduction in
Nigeria. JESD Journal. Vol.5 No.14.
202
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Oakland Institute (2018) Indonesia: The World Bank's Failed East Asian Miracle. Available:
https://www.oaklandinstitute.org/indonesia-world-bank-failed-east-asian-miracle
Pererra, L.D. and Lee, G.H.Y (2013) Have Economic Growth and Institutional Quality
Contributed to Poverty and Inequality Reduction in Asia?. Journal of Asian Economics.
Volume 27, August 2013, Pages 71-86.
Ponciano S. Intal, Jr (2016) The Economic Transformation of the ASEAN Region in Comparative
Perspective. Available:
https://www.eria.org/3.1.ASEAN_50_Vol_3_Integrative_Chapters_1.pdf
Pahm (2019), Impacts of the Sectoral Composition of Growth on Poverty Reduction in Vietnam.
Journal of Economics and Development. Vol. 21 No. 2, pp. 213-222.
Pesaran M. Shin, & Richard, S. (2001). Bounds Testing Approaches to The Analysis of Level
Relationships. Journal of Applied Econometrics, 16(3), 289326.
Quiñonez, P., Sáenz, J., & Solórzano, J. (2018). Does foreign direct investment reduce poverty?
The case of Latin America in the twenty-first century. Business and Economic Horizons,
14(3), 488500
Ritwik Sasmal & Joydeb Sasmal (2016) Public Expenditure, Economic Growth and Poverty
Alleviation. International Journal of Social Economics, Emerald Group Publishing, vol.
43(6), pages 604-618.
Ruch.W and Geyer Jr. H.S (2018) Public Capital Investment, Economic Growth, and Poverty
Reduction in South African Municipalities. Regional Science Policy and Practice. Vol.9
Issue.4 Pages 269-284
Rahman, SN, Suharno, and Badriah LS (2020) The Crucial Factors Affecting Poverty and
Inequality in ASEAN: A Case Study of Cambodia, Malaysia, Indonesia, and Thailand.
International Conference on Rural Development and Enterpreneurship. Vol. 5 No.1ISBN:
978-623-7144-28-1.
Sam B.I (2016) Strategies for Alleviating Poverty in Nigeria. Journal of Poverty, Investment and
Development. ISSN 2422-846, Vol.28.
Koc (2013) The Effect Of Foreign Direct Investment On Poverty: Panel Regression Analysis For
40 Selected Underdeveloped And Developing Countries, Sayfalar 225 - 240.
Siyan, P., Adegoriola, A. E., & Adolphus, J. A. (2016) Unemployment and Inflation: Implication
on Poverty Level in Nigeria. Munich Personal RePEc Archive, 79765, 123
Teixeira, A. A. C., & Loureiro, A. S. (2019). FDI, income inequality and poverty: a time series
analysis of Portugal, 19732016. Portuguese Economic Journal, 18(3), 203249
Uttama, N. P. (2015). foreign direct investment and the poverty reduction nexus in Southeast
Asia. Economic Studies in Inequality, Social Exclusion and Well-Being, 281298
World Bank (2021) Economic Growth and Macroeconomic data. Availabe:
https://data.worldbank.org/
203
Received: 2021-08-02 Revised: 2021-09-10 Approved: 2021-09-11
ASCARYA
Vol. 1 No. 1 (2021): Islamic Science, Culture, and Social Studies
Ziegenhain. P (2020) ASEAN 2025: Towards Increased Foreign Direct Investment in Southeast
Asia? Aegis, 4(1), 118.
Copyright (c) 2021 Abi Fadillah
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0
International License.